jump to navigation

Makna Perubahan June 26, 2013

Posted by wijasena in sajak, Uncategorized.
2 comments

Ketika aku masih muda & bebas berkhayal,
Aku bermimpi ingin mengubah dunia,
Seiring dengan bertambahnya usia & kearifanku,
Kudapati bahwa dunia itu pun agak kupersempit,
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku,
Namun tampaknya hasrat itupun tiada hasilnya

Ketika usiaku semakin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa,
Kuputuskan untuk mengubah keluarga,
Orang-orang yang paling dekat denganku
Tetapi celakanya,
Merekapun tidak mau diubah.

Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
Tiba-tiba aku sadari
Andaikan yg pertama-tama kuubah adalah diriku
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan,
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku
Lalu berkat inspirasi & dorongan mereka
Bisa jadi akupun mampu memperbaiki… “ Negeriku ”
Kemudian siapa tahu aku bisa mengubah dunia
(Wesminter Abbey, Inggris 11oo)

Keteladanan Air June 24, 2013

Posted by wijasena in sajak.
Tags: ,
add a comment

Air ..  Ya Tuhan itu kuasa-Mu

sungguh meneladaniku

Air .. 70 % tubuh perlu denganmu

Sifatmu jernih, tenang, fleksibel & konsisten.

Ikut arus disemua celah, tidak pernah neko-neko,

Selalu kebawah dan merendah,

tidak memandang keatas,

Tetapi tetap populer  & hebat

Engkau pandai beradaptasi,

jadi ES dimusim dingin,

mencair dimusim semi

dan menguap dimusim panas

Bergerak alamiah tidak memaksakan kehendak

Sungguh aku ingin sekali meneladanimu

by: Tb. Anis Angkawijaya

Catatan: Meneladani Air dalam kehidupan. Segala wujud, sifat, pergerakannya. Tanpa Air tak mungkin ada kehidupan.

Cyber Warfare dalam Konstelasi Politik Dunia October 12, 2012

Posted by wijasena in Military, Teknologi Informasi.
add a comment

Aksi-aksi Perang Dunia Maya/Perang Cyber (Cyber Warfare) yang melibatkan negara-negara kuat dunia disinyalir sebagai Perang Modern di masa yang akan datang. Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Israel adalah negara-negara yang melirik kekuatan cyber sebagai salah satu faktor penting ketahanan nasional dalam konteks politik dan kekuasaan global.

Bagaimanakah para pemerhati politik dunia melihat tendensi ini sebagai kajian yang menarik dalam hal keterlibatan teknologi hacking komputer dan konstelasi politik global.

Cyber Politics

Setelah dikejutkan dengan aksi Stuxnet diawal 2010, tahun yang menandai babak baru Perang Dunia Maya itu dilengkapi oleh satu fenomena luar biasa yang menarik perhatian masyarakat global, yaitu mencuatnya kontroversi organisasi whistleblower Wikileaks yang kembali memanfaakan teknologi hacking computer untuk tujuan-tujuan politik.

Istilah cyber-politics dalam khasanah keilmuan Indonesia awalnya memang bukan satu subjek studi yang cukup akrab ditelinga masyarakat umum, karena itu dalam pembahasannya topik ini cukup asing terutama dikaitkan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin bergerak maju melahirkan berbagai macam inovasi yang membentuk dunia modern. Istilah cyber-politics sendiri secara singkat dapat direfleksikan melalui satu kalimat “internet based conflict involving politically motivated attacts on information & information system.”

Seiring dengan mencuatnya istiah cyber-politics, beberapa istilah-istilah yang sekiranya kurang dikenal masyarakat umum dalam kaitan teknologi hacking komputer dengan dunia politik antara lain Hacktivism, Political Cracking, Political Defacement, Electronic Civil Disobedience, Cyber-Warfare, sampai dengan Firesale, dan lain sebagainya hari ini mulai memiliki ruang sendiri dalam komunikasi global.

Cyber Warfare (Perang Dunia Maya)

Sementara Cyber Warfare (Perang Cyber) dalam sekup politik global dapat dipahami sebagai aksi politik yang melibatkan kemampuan hacking computer dalam mencapai tujuan-tujuan si pemilik kepentingan yang diantaranya bisa dilakukan melalui aktivitas-aktivitas semacam sabotase dan spionase.

“Cyber Warvare is an action of a nation-state to penetrate another nation’s computers or networks for the purposes of causing damage or disruption.”

Kalau kita pernah mendengar istilah Aurora, Stuxnet, Ghosnet sampai Wikileaks Takedown dan semua konsepsi global terkait digunakannya technology hacking komputer untuk tujuan-tujuan politik dalam format Perang Dunia Maya, disinilah pembahasan Cyber-Warfare sesunggungguhnya dapat difokuskan.

Stuxnet adalah worm komputer yang diciptakan tahun 2010, yang telah menginfeksi sistem komputer di Iran. Worm ini bahkan berhasil meremote ledakan berbahaya di pusat pengayaan uraninum pengembang nuklir negara yang menentang Amerika Serikat tersebut. Peristiwa ini pun disinyalir dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat sebagai penentang utama Program Nuklir Iran. Sementara operasi Aurora ditujukan untuk mencuri data-data sensitif para aktivis HAM Cina mencuat satu tahun sebelumnya.

Selain dua tools perang dunia maya yang cukup menarik perhatian masyarakat pemerhati politik global tersebut, Ghostnet tool spionase yang mematai-matai adalah salahsatu yang juga dianggap sebagai produk hacking computer yang telah menciptakan pengaruh besar terhadap perkembangan cyber-politics global.

Dunia Masa Depan

Setelah negara-negara super power mulai melirik technology hacking computer sebagai salah satu elemen penting dari ketahanan nasional mereka, disinyalir bahwa dimasa yang akan datang perang konvensional yang melibatkan fisik dan kekuatan militer tidak lagi menjadi pilihan startegi negara-negara besar dalam mencapai tujuan politiknya.

Karenanya pada masa kini teknologi hacking computer yang sebelumnya tidak terlalu menempati posisi penting dalam konstalasi global bahkan kurang dipahami oleh masyarakat biasa telah berhasil menarik perhatian para pelaku politik dunia, peneliti dan akademisi sebagai salah satu tantangan dunia masa depan.

Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber(cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.

Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan siber Israel–yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat–khususnya terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama nuklir.

Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.

Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).

Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan serangan seperti ini.

Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.

“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”

Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan maya itu.

Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris, memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces (IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.

Sebagai Matra kelima

Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar (space). Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.

Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.

Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.

Menurut sumber terpercaya, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv.

Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan.

Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite cybernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan cyber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau memilih untuk bergabung dengan The Unit.

Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman cyber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.

Angkatan perang siber

Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.

Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.

Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan cyber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.

Lalu, bagaimana dengan Negara Indonesia?

Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang cyber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang cyber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang cyber sejak satu dekade yang lalu–mulai dari perang cyber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hinggacyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis cyber Indonesia bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu negara biasanya sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet serta tarifnya.

“Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal,” kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink.

Karenanya, menurut dia, perang cyber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.

Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan cyber.

Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.”

Jaman semakin berkembang, teknologipun semakin maju, di jaman modern seperti sekarang perang analog atau perang menggunakan senjata dan kekerasan untuk menginvasi negara lain nampaknya telah di alihkan kedalam bentuk digital yaitu melalui jaringan internet atau dunia maya soalnya perang konvensional atau perang menggunakan senjata membutuhkan biaya dan korban yang besar.

Untuk menaklukan suatu negara, tidak perlu dengan persenjataan dan jumlah pasukan yang besar akan tetapi dapat dilakukan penyerangan terhadap segi ekonomi atau dari atau sektor komunikasi melalui dunia maya.

Militer AS, Selasa, mengumumkan “komando baru dunia maya” yang dirancang untuk melancarkan perang digital dan mendorong pertahanan dari ancaman yang meningkat terhadap jaringan komputernya oleh para hacker yang sangat meresahkan dan memiliki perkembangan yang sangat pesat.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates secara resmi mendirikan komando dunia mayat –yang pertama di negeri itu– yang akan beroperasi di bawah Komando Strategis AS, kata jurubicara PentagonBryan Whitman.

Komando tersebut akan mulai beroperasi pada Oktober dan beroperasi penuh setahun kemudian, kata Whitman.

Tindakan itu mencerminkan perubahan dalam strategi militer sementara “dominasi maya” sekarang menjadi bagian dari doktrin perang AS dan dilakukan di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh jaringan mata-mata digital yang datang dari China, Rusia, dan tempat lain.

Para pejabat AS mengatakan, China telah membangun program canggih perang maya dan serangkaian penyusupan di Amerika Serikat serta tempat lain dapat dilacak ke sumber di China.

Pejabat yang diperkirakan banyak kalangan akan memimpin komando tersebut ialah Letnan Jenderal Keith Alexander, Direktur Rahasia Super Badan Keamanan Nasional (NSA), sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.

Alexander telah menggambarkan dunia maya sebagai perbatasan baru militer yang dapat membentuk keamanan nasional dan masa depan. Ia membandingkannya dengan kekuatan laut atau udara.

Departemen Pertahanan menyatakan komando itu akan mengerucutkan beragam upaya maya di seluruh Angkatan Bersenjata dan akan memusatkan perhatian pada jaringan kerja militer.

Para pejabat mengatakan, komando itu tampaknya akan berada di Fort Meade, Maryland, dan Pentagontakkan mengambil-alih upaya keamanan bagi jaringan kerja sipil dari lembaga lain pemerintah.

Militer AS mengandalkan 15.000 jaringan kerja dan sebanyak tujuh juta komputer, dengan lebih dari 100 lembaga intelijen asing berusaha meretas jaringan kerja AS, kata Wakil Menteri Pertahanan William Lynn.

“Jaringan kerja pertahanan kami terus-menerus menghadapi serangan,” kata Lynn dalam satu pidato pekan lalu.

“Semua itu diperiksa ribuan kali setiap hari. Semua itu disaring jutaan kali per hari. Dan seringnya serta canggihnya serangan meningkat …,” katanya.

“Ancaman tersebut bersumber mulai dari peretas remaja sampai gerombolan kriminal yang bertindak sebagai tentara bayaran maya bagi pemerintah asing,” kata Lynn.

Lynn memberi contoh serangan maya yang membuat jaringan komersial dan pemerintah Georgia tak dapat beroperasi selama penyusupan militer Rusia tahun lalu.

Para pejabat pertahanan telah mengatakan komando maya itu akan memusatkan perhatian pada upaya keamanan serta kemampuan serangan guna menjamin “kebebasan tindakan di dunia maya” bagi Amerika Serikat.

Perincian pasti kekuatan militer maya AS tetap menjadi rahasia, tapi itu meliputi teknologi yang mampu menembus dan membuat macet jaringan kerja, termasuk sistem udara rahasia Suter, kata beberapa pengulas.

Teknologi tersebut dilaporkan telah ditambahkan kepada pesawat tanpa awak dan memungkinkan pemakai mengambil-alih serta memanipulasi sensor musuh.

Penerobosan yang dilaporkan terhadap jaringan listrik AS dan jaringan kerja yang digunakan oleh kontraktor udara yang membuat pesawat jet tempur F-35 telah menggaris-bawahi keprihatinan mengenai keamanan maya.

Tahun lalu, beberapa ribu komputer di Departemen Pertahanan AS diserang oleh malicious software, sehingga militer melarang tentara dan staf sipil menggunakan perangkat memori eksternal dan thumb drive.

Dalam anggaran pertahanan yang diusulkan bagi tahun fiskal 2010, pemerintah AS telah mengusulkan tambahan dana buat pelatihan sampai tiga kali lipat jumlah ahli keamanan maya dari 80 jadi 250 per tahun.

Presiden Barack Obama telah menetapkan prioritas utama pada keamanan maya dan mengumumkan rencana bagi koordinator nasional pertahanan maya.

Satu kajian kebijakan Gedung Putih menyatakan, “Resiko keamanan maya menimbulkan tantangan keamanan nasional dan ekonomi paling serius pada Abad XXI.”

Obama telah menjanjikan hak kebebasan pribadi akan sepenuhnya dipelihara sekalipun saat pemerintah bertindak guna meningkatkan upaya untuk melindungi jaringan kerja sensitif militer dan sipil.

Sumber:

http://politik.kompasiana.com/2011/12/11/cyber-politics-perang-dunia-maya-dan-tantangan-dunia-masa-depan/

Jengah ….. June 8, 2012

Posted by wijasena in Coretan.
Tags: ,
add a comment
Jika Aku salah melangkah,
semoga akan menjadi sejarah.
Saat kita mulai merangkak,
dan kalian meninggalkan
sejengkal demi sejengkal.
Akupun mulai letih dan tertatih.
tunjukkan alur menentang jalur
bercermin pecah belah
dan mulai lelah jengah …..
Pekalongan, 03-06-12

National Traffic Management Center (NTMC) bagian dari SIMTEKPOL January 5, 2012

Posted by wijasena in Teknologi Informasi.
7 comments

Perkembangan Teknologi Informasi yang sedemikian pesat telah memberikan manfaat dalam berbagai sendi kehidupan, hal ini menuntut  Polri untuk mengikuti dan berinovasi dalam pelaksanaan tugas-tugas Kepolisian. Dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi yang paling menonjol adalah telah dibangunnya  National Traffic Management Center (NTMC).

Traffic Management Center (TMC), Regional Traffic Management Center (RTMC) di wilayah Provinsi atau National Traffic Management Center (NTMC) pada level Nasional, pada dasarnya merupakan pusat komando pengendali lalu lintas. Operation Room atau dengan sebutan berbeda, seperti Call and Command Center, Traffic Control Center dan lain sebagainya yang mempunyai fungsi yang sama yaitu sebagai pusat K3I (Komunikasi, Koordinasi, Kendalin Operasi serta Informasi Terpadu). Begitu juga Traffic Management Center (TMC) terdapat dua fungsi lain yang ditambahkan pada NTMC, yaitu pelayanan masyarakat dan rekam jejak elektronik untuk penegakan hukum.

NTMC merupakan pusat kendali informasi dan komunikasi yang mengintegrasikan sistem informasi di ke lima pemangku kepentingan bidang lalu lintas (Polri, Kementerian Pekerjaan Umum, Perhubungan, Perindustrian, dan Riset Teknologi). Sebagaimana ditegaskan pada pasal 247 ayat 3 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Korps Lalu Lintas Polri adalah Pembina, Pengelola dan Penanggung jawab dari Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi, Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara Nasional.

Bangunan jaringan Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu lintas dan angkutan jalan mengikuti bentuk bangunan jaringan struktur organisasi Polri, yaitu 1 (satu) unit NTMC pada Korlantas Polri, 31 (tiga puluh satu) unit RTMC pada tingkat Polda dan 445 (empat ratus empat puluh lima) TMC pada tingkat Polres.

Pada dasarnya pusat kegiatan K3-I bertumpu pada TMC yang ada di masing-masing Polres. Untuk kegiatan yang sifatnya menonjol, lingkup provinsi atau lintas Polres, secara selektif akan menjadi domain kerja RTMC. Sedangkan domain kerja NTMC adalah K3-I yang menonjol dan bersifat nasional, serta lingkup pengendalian operasional lebih dari 2 (dua) Polda.

Kegiatan NTMC sebagai Pusat Kendali Sistem Informasi dan Komunikasi Lalu Lintas dan angkutan jalan, menurut pasal 249 (e) UU No. 22 Tahun 2009, sekurang-kurangnya meliputi:

  1. Pelayanan kebutuhan data, informasi, dan komunikasi tentang lalu lintas dan angkutan jalan;
  2. Dukungan tindakan cepat terhdap pelanggaran, kemacetan, dam kecelakaan serta kejadian lain yang berdampak terhadap lalu lintas dan angkutan jalan;
  3. Analisis, evaluasi terhadap pelanggaran, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas;
  4. Dukungan penegakan hukum dengan alat elektronik dan secara langsung;
  5. Dukungan pelayanan Surat Izin Mengemudi, Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor dan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor;
  6. Pemberian informasi hilang temu kendaraan bermotor;
  7. Pemberian informasi kualitas baku mutu udara;
  8. Dukungan pengendalian lalu lintas dengan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan patroli;
  9. Dukungan pengendalian pergerakan lalu lintas dan angkutan jalan; dan
  10. Pemberian informasi tentang kondisi jalan dan pelayanan publik.

Sedang NTCM Polri sendiri adalah merupakan bagian atau subsistem dari Sistem Manajemen Teknologi Kepolisian (SIMTEKPOL). Seluruh informasi aktual tentang lalu lintas yang merupakan output dari NTMC dikumpulkan, diolah, dan disampaikan kepada pihak yang berkepentingan dan dikoordinasikan sebagai bahan kendali penanganan masalah.

Kehadiran NTMC merupakan salah satu wujud Reformasi Birokrasi Polri dalam hal pelayanan kepada masyarakat yang memungkinkan personel Polantas dapat bekerja secara transparan, cepat dan akurat dalam merespons (quick respon) setiap permasalah yang ada di lapangan. NTCM merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upaca mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran (kamseltibcar) lalu lintas.

Untuk mendukung sistem informasi NTCM telah dipasang kamera CCTV di selumlah lokasi di Pulau Jawa, Sumater dan Bali yang seluruhnya telah terintegrasi oleh NTMC Polri. Kamera pemantau itu antara lain tersebbar di berbagai titik rawan macet dan gangguan keamanan dan aktif termonitor selama 24 jam.

Untuk kepentingan kendali operasi, NTMC di Korps Lalu lintas Polri juga dilengkapi dengan teknologi informasi berbasis geografis/ Geographic Information System (GIS) yang mampu menampilkan data secara akurat sesuai kondisi per wilayah. Selain itu operasional NTMC didukung dengan teknologi, seperti CCTV, CIS, GPS, Internet, Database online, SMS, Faximile, Telepon, HT, Layar monitor dan berbagai program komputer agar dari NTMC kegiatan K3-I dapat diimplementasikan secara optimal, yaitu terjadinya quick respontime (kecepatan pengamanan, pelayanan masyarakat).

Kontak NTMC Polri:

  • Telepon   : 021-7948437
  • SMS           : 021-500669
  • Hotline    : 9119
  • Website   : http://www.lantas.polri.go.id
  • twitter     : @ntmckorlantaspolri
  • facebook: ntmckorlantaspolri

Sumber:

http://www.fakhrial-trafficinfo.com/2010/11/jembatan-teknologi-polri-masyarakat.html

dll.

Ndolalak : Save our heritage!!! [Kesenian warisan kolonial] December 29, 2011

Posted by wijasena in Coretan.
Tags: , , ,
add a comment

Tak bisa dipungkiri sebagian masyarakat Kabupaten Purworejo pasti sangat familiar dengan kesenian tari Ndolalak. Beberapa daerah kecamatan di Kabupaten Purworejo, tarian ini diberi nama yang berbeda-beda, misal daerah  Banyu’urip serta sebagian daerah pesisir pantai selatan terkenal dengan nama Jidur karena irama musiknya didominasi oleh alat musik jidur atau bedug. Di daerah utara yang notabene kontur tanahnya berbukit menyebut tarian Ndolalak dengan nama Angguk. Terlepas dari nama Ndolalak mempunyai sejarah tersendiri. Tarian ini lahir dari kolonialisme, ini lah yang membedakan dengan kesenian lainnya, membuat Tarian Ndolalak sangat identik dan tak ada duanya.
Berawal dari penjajahan Belanda yang menempatkan serdadu di Purworejo. Hidup di dalam tangsi-tangsi (barak) di sekitar kota Purworejo sebagai bentuk pertahanan karena Purworejo berbatasan langsung dengan Keraton Yogyakarta dan daerah pesisir selatan Pulau Jawa, inilah yang menyebabkan Belanda merasa harus memperkuat kedudukannya di Purworejo. Tekanan kehidupan di tangsi yang ketat membuat serdadu Belanda serta tekanan akibat peperangan yang sering kali terjadi menyebabkan saat serdadu-serdadu itu diberi kebebasan keluar tangsi yang dimanfaatkan untuk berfoya-foya, bercanda, menyanyi dengan penuh semangat dan kegembiraan. Dan disaat melewati perkampungan penduduk tingkah laku serdadu Belanda mengundang perhatian dari para penggembala kambing untuk menirukan tingkah polah. Karena ketidaktahuan bahasa dan irama, musik yang unik mereka hanya tahu lafal yang diucapkan oleh Serdadu Do La La. Akhirnya oleh seniman Purworejo diciptakan tarian terkenal dengan sebutan Tarian Ndolalak.
Dahulu tarian ini memang dimainkan oleh lelaki, namun sejak tahun 1976 karena mengikuti selera penikmat seni dan penonton dimainkan oleh wanita muda. Dinamika perkembangan tarian ini cukup modern. Jika sebelumnya alat musik yang dimainkan untuk mengiringi tarian ini kendang, terbang, jidur/bedug dalam perkembangannya ditambah dengan organ, drum sehingga menghasilkan irama dan melodi yang lebih ciamik. Kesenian tarian Ndolalak ini dibawakan secara berpasang-pasangan, rata – rata terdiri dari 12 penari. Kostum pun meniru serdadu Belanda, banyaknya atribut membuat semakin meriah, selempang, pet, kaca mata hitam dan tak lupa kaos kaki. Gerakannya pun sangat rampak, misalnya saat salah satu penari kesurupan (mendem-red) inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh penonton. Sangat menarik memang disamping seni ada nilai magicnya. Penari yang sesurupan tidak sadarkan diri kemudian akan menari dengan penuh semangat. Permintaan yang diluar logika disela-sela menari, makan serpihan kaca, bara api yang masih menyala, minum air bunga mawar saat inilah penonton semakin menikmati alunan musik dan tarian yang dibawakan oleh sang penari. Terkadang ada juga  penonton yang ikut kesurupan karena ikut menjiwai dan menghayati tarian saat menonton, dan itupun semakin membuat pertunjukan semakin bergairah.
Sebenarnya terkesan aneh memang, kota Purworejo yang notabene bersebelahan dengan Keraton Yogyakarta ini mempunyai kesenian unik seperti ini. Maklum stigma dan image dengan budaya keraton yang lemah lembut masih sangat melekat. Dengan penari wanita yang memakai celana pendek di atas lutut, gerakan lincah penari seakan-akan jauh dari seni keraton. Sehingga tak jarang ada yang bilang jika Ndolalak itu berasal dari Banyumas bukan dari Purworejo. Ndolalak adalah milik masyarakat Purworejo, dan merupakan warisan budaya sekaligus kenangan sejarah Bangsa Indonesia masa lalu, kesenian warisan kolonial.

Sekilas tentang Disaster Recovery Center (DRC) December 20, 2011

Posted by wijasena in Teknologi Informasi.
7 comments

Tulisan ini didasari karena di perusahaan tempat saya bekerja sekarang telah dibangun DRC (Disaster Recovery Center) sebagai backup Data Center di Kantor Pusat yang akan segera diaktifkan. Arti penting DRC bagi kelancaran sistem IT di sebuah perusahaan  sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Setiap organisasi memiliki sejumlah rangkaian proses utama (core processes) yang biasanya ditunjang oleh beragam teknologi informasi  dan komunikasi (TIK) agar tercipta suatu mekanisme kerja yang efektif, efisien, dan terkendali dengan baik. Melihat bahwa core processes merupakan suatu penting yang harus selalu dijaga kinerjanya dalam arti kata tidak boleh sampai terjadi peristiwa dimana core processes terhenti aktivitasnya yang berarti pula perusahaan tidak dapat menciptakan produk dan/atau jasa yang seharusnya dihasilkan maka perusahaan harus memikirkan cara atau strategi dalam menghadapi sejumlah risiko yang berpotensi mengganggu jalannya aktivitas produksi tersebut.

Penggunaan teknologi informasi telah menjadi kebutuhan pokok bagi aktifitas organisasi, sehingga apabila layanan tersebut terhenti maka efeknya sangat serius, yaitu timbulnya berbagai resiko operasional, resiko reputasi dan reputasi pasar. Pencegahan terhadap resiko-resiko tersebut yang diakibatkan oleh bencana (disaster) seperti kebakaran, gempa bumi, banjir, tsunami dll dapat dilakukan dengan menyusun rencana pemulihan bencana (Disaster Recovery Plan/DRP) dengan dukungan DRC (Disaster Recovery Center) sebagai tempat/area penyimpanan serta pengolahan data dan informasi pada saat terjadinya bencana yang mengakibatkan Data Center yang ada mengalami gangguan temporary, sebagian atau bahkan rusak total sehingga memerlukan waktu yang lama untuk melakukan pemulihan. Core processes merupakan suatu proses penting yang harus selalu dijaga kinerjanya. Hal ini dilakukan dengan melindungi core process dari sumber-sumber yang berasal dari bencana alam, virus, terorisme, malicious acts dari dalam maupun luar serta unpredictable source lainnya. salah satu upaya untuk mengantisipasi bila hal-hal tersebut terjadi adalah dengan membangun sebuah Disaster Recovery Center (DRC). Dimana jika terjadi gangguan serius yang menimpa satu atau beberapa unit kerja penting di perusahaan seperti pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi proses produksi tetap berjalan sebagaimana mestinya karena ada DRC yang mengambil alih fungsi unit yang “rusak” tersebut.

Disaster Recovery Center merupakan suatu fasilitas dalam perusahaan yang berfungsi untuk mengambil alih fungsi suatu unit ketika terjadi gangguan serius yang menimpa satu atau beberapa unit kerja penting di perusahaan, seperti pusat penyimpanan dan pengolahan data dan informasi. DRP (Disaster Recovery Plan) dan Disaster Recovery Center (DRC) sudah bukan hal yang baru di dunia IT Indonesia, bahkan Bank Indonesia telah mensyaratkan seluruh bank agar memiliki DRP/DRC  contohnya adalah ketika terjadi malapetaka yang menimpa sejumlah perusahaan besar dunia yang bermarkas di world trade center tetap dapat beroperasi (segera pulih kegiatan operasionalnya dalam waktu cepat), karena mereka telah mempersiapkan sejumlah DRC untuk mengantisipasi bencana yang tidak dikehendaki tersebut.

Secara umum DRC berfungsi untuk:

  • Meminimalisasi kerugian finansial dan nonfinansial dalam meghadapi kekacauan bisnis atau bencana alam meliputi fisik dan informasi berupa data penting perusahaan
  • Meningkatkan rasa aman di antara personel, supplier, investor, dan pelanggan

Membuat penambahaan Data Center, di lokasi yang aman dan terpisah digunakan hanya jika terjadi bencana, akan mengurangi efektifitas biaya dari masalah, dan akan menjadi kekuatan untuk menduplikat biaya di lokasi, sumberdaya, link komunikasi dan lainnya. Akan menghandle semua tugas yang berhubungan dalam mengatur profesional DRC, sehingga bisnis dapat terus berjalan. DRC yang kita tawarkan akan mempunyai fitur keamanan, dalam menjaga data center seperti mempunyai asuransi untuk bisnis continuity. Di banyak institusi beberapa membangun DRC di Bali dan sebagian ada di Bandung sedangkan perusahaan yang bertaraf internasional biasanya di Singapura atau di Hongkong contohnya BCA.

Mengingat betapa penting sekali bisnis continuity dalam sebuat organisasi, ada 3 pilihan type DRC yang sesuai dengan kondisi alokasi anggaran organisasi, yaitu :

  • Cold DRC

Cold DRC ini menyediakan sistem yang sama seperti dilokasi data center di organisasi dimana aplikasi dan data akan diupload sebelum fasilitas DRC bisa digunakan, namun proses pemindahan dari data center ke lokasi DRC akan dilakukan secara manual.

  • Warm DRC

Warm DRC akan menyediakan komputer dengan segala komponennya, aplikasi, link komunikasi, serta backup data yang paling update, dimana system tidak otomatis berpindah tetapi masih terdapat proses manual meskupun dilakukan seminimal mungkin.

  • Hot DRC

Hot DRC ini mengatur secepat mungkin operasional bisnis, sistem dengan aplikasi, link komunikasi yang sama sudah di pasang dan sudah tersedia di lokasi DRC, data secara continu dibackup menggunakan koneksi live antara data center dan lokasi DRC, dan operasional bisnis akan berjalan pada saat itu juga, tanpa harus mematikan sistem di data center lama.

Membangun sebuah DRC yang baik, bukanlah suatu hal yang mudah, bahkan beberapa praktisi mengategorikannya sebagai sebuah aktivitas kompleks, karena di dalamnya terdapat beragam aspek dan komponen yang membutuhkan perhatian khusus dan serius. oleh karena itu, yang perlu dipelajari dan dipahami sungguh-sungguh oleh mereka yang ingin merencanakan dan mengembangkan DRC adalah metodologi pembangunannya. metodologi yang baik akan menekankan pada aspek-aspek sebagai berikut:

  1. memberikan gambaran yang jelas kepada manajemen mengenai besarnya usaha yang harus dilakukan dalam merencanakan, mengembangkan, dan memelihara sebuah DRC.
  2. menggalang komitmen penuh dari seluruh manajemen dan karyawan di berbagai lapisan organisasi untuk berpartisipasi dalam proses perencanaan dan pengembangan DRC.
  3. mendefinisikan kebutuhan recovery dipandang dari berbagai perspektif bisnis
  4. memperlihatkan dampak kerugian yang akan diderita perusahaan jika DRC tidak segera dibangun.
  5. memfokuskan diri pada pencegahan terjadinya gangguan dan mencoba untuk meminimalisasikan dampak negatif yang terjadi, walaupun tetap dipersiapkan berbagai usaha reaktif (recovery) seandainya gangguan tersebut benar-benar terjadi.
  6. memudahkan proses pemilihan anggota tim yang bertangung jawab di dalam proses pengembangan DRC.
  7. menghasilkan sebuah perencanaan recovery yang mudah dipahami, mudah diterapkan, dan mudah dipelihara.
  8. mendefinisikan secara jelas bagaimana keberadaan DRC tersebut terintegrasi secara baik dengan sejumlah entiti bisnis lain yang dalam keadaan normal tetap berjalan.

Adapun metodologi perencanaan dan pengembangan DRC yang baik paling tidak harus memperhatikan 8 (delapan) tahapan utama, yaitu:

  1. pre-planning activities (project initiation), merupakan tahap persiapan untuk menjamin bahwa seluruh pimpinan dan jajaran manajemen perusahaan paham betul mengenai karakteristik dan perlunya DRC dibangun.
  2. vulnerability assessment and general definition of requirements, merupakan kajian terhadap potensi gangguan yang dapat terjadi karena kerapuhan sistem dan usaha untuk mendefinisikan kebutuhan akan DRC yang dimaksud.
  3. business impact assessment, merupakan analisa terhadap dampak bisnis yang akan terjadi seandainya gangguan tersebut terjadi pada kenyataannya.
  4. detailed definition of requirements, merupakan proses mendefinisikan kebutuhan secara lebih rinci setelah proses kajian terhadap dampak bisnis selesai dilakukan, sehingga perusahaan dapat memfokuskan diri secara tepat (karena adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki).
  5. plan and center development, merupakan tahapan membangun perencanaan dan DRC yang dimaksud sesuai dengan spesifikasi kebutuhan yang telah didefinisikan sebelumnya.
  6. testing and exercising program, merupakan rangkaian usaha uji coba atau latihan kinerja DRC dengan cara mensimulasikan terjadinya gangguan yang dimaksud.
  7. execution, merupakan suatu rangkaian proses dimana DRC beroperasi sejalan dengan aktivitas bisnis sehari-hari perusahaan dalam keadaan normal.
  8. maintenance and evaluation, merupakan usaha untuk memelihara dan mengevaluasi kinerja DRC dari waktu ke waktu agar selalu berada dalam kondisi yang prima dan siap pakai.

Infrastruktur disaster recovery mencakup fasilitas data center, wide area network (WAN) atau telekomunikasi, local area network (LAN), hardware, dan aplikasi. Dari tiap bagian ini kita harus menentukan strategi Disaster Recovery yang paling tepat agar dapat memberikan solusi yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Aspek lain yang perlu diperhatikan bahwa sumber daya manusia merupakan komponen penting dalam penyediaan layanan di mana mereka harus memberikan layanan (yang kadang-kadang berlebihan). Misalnya mereka siap bekerja jam 12 malam atau di luar jam kerja. Artinya dibutuhkan adanya “operator” yang standby 24 jam/hari. Hal tersebut dapat menjadi kendala yang perlu dipertimbangkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membangun dan negosiasi kontrak DRC:

  1. DRC harus berada di daerah aman tapi dalam jarak yang terjangkau dari lokasi yang akan dilayaninya.
  2. perjanjian kontrak harus mengidentifikasikan sumber-sumber secara spesifik dan pelayanan yang akan disediakan.
  3. perjanjian kontrak sebaiknya berisi batasan jumlah maksimum pelanggan lain yang berlokasi sama dengan wilayah layanan perusahaan perusahaan bersagkutan.
  4. perjanjian kontrak harus menspesifikasi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menanggapi laporan dari client.

Ada dua kelemahan perencanaan dan implementasi DRC, khususnya di Indonesia. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. DRP/DRC masih dianggap sebagai suatu kelengkapan yang dilakukan hanya sekali saja. Banyak perusahaan yang merasa tenang setelah memiliki DRP/DRC, tidak pernah mereviewnya lagi selama bertahun-tahun. Perlu diingat bahwa perancangan DRP/DRC dimulai dengan mengidentifikasikan risk dan secara bertahap memprediksi dampaknya terhadap bisnis. Berdasarkan itulah muncul daftar prioritas yang harus diantisipasi kejadiannya dan dipersiapkan langkah penaggulangannya jika ancaman yang dikhawatirkan tersebut terjadi. Banyak perusahaan tidak menyadari (atau tidak mau tahu) bahwa di sisi penyebab, ‘bentuk-bentuk ancaman baru bermunculan‘ . Di ujung yang lain, ‘tuntutan bisnis bisa berubah‘, yang tadinya internet banking tidak dianggap krusial, menjadi krusial karena semakin banyak nasabah pengguna internet banking. Tentunya dinamika ini akan mengubah daftar ancaman serta skala prioritasnya. Sudah barang tentu, sebagai akibatnya DRP/DRC yang sudah disusun harus disesuaikan dengan perubahan tersebut. Bayangkan, apakah DRP/DRC yang sudah bertahun-tahun tidak pernah direview dan disesuaikan akan masih efektif?
  2. DRP/DRC tidak diuji dengan memadai. Tidak sedikit perusahaan yang sudah memiliki DRP/DRC melakukan pengujian yang terbatas, pada kondisi yang sudah dipersiapkan, dan tidak dilakukan pada kondisi pengujian yang mendekati keadaan disaster yang sebenarnya. Pada keadaan disaster, semua orang berada dalam keadaan panik dan tidak semua resources tersedia seperti dalam keadaan normal, sehingga latihan yang dipersiapkan secara khusus mungkin tidak cukup mewakili atau mendekati keadaan disaster tersebut. Perlu sedikit keberanian untuk menguji DRP/DRC kita pada keadaan operasi normal. Jika tidak berani, bukankah itu menandakan bahwa masih ragu dengan kinerja dan kehandalan DRP/DRC?

Membangun DRC yang baik tentu saja memerlukan dana yang tidak sedikit. Perusahaan yang biasanya memutuskan untuk membangun DRC adalah mereka yang memiliki karakteristik usaha sebagai berikut:

  1. Resiko terjadinya gangguan cukup tinggi karena nature dari proses atau teknologi yang dipakai di dalam menunjang core processes yang ada – misalnya dalam mengimplementasikan internet banking, remote trading, e-auction, dan lain sebagainya;
  2. Resiko gangguan yang terjadi berpotensi mengganggu sejumlah besar (mayoritas) proses atau aktivitas yang sangat kritikal bagi kelangsungan hidup perusahaan – misalnya terkait dengan automated teller machine, corporate electronic payment system, automatic procurement system, dan lain sebagainya; dan
  3. Resiko gangguan melekat pada sejumlah proses bernilai tinggi (value-added processes), yaitu serangkaian aktivitas dimana: terkait langsung dengan mekanisme penciptaan produk atau jasa, bersifat mutlak dilakukan oleh perusahaan agar tidak kehilangan sumber pendapatan, dan pelanggan “is willing to pay” untuk keberadaan proses tersebut.

 Prosedur Business Continuity Plan (BPC)

DRC diperlukan oleh perusahaan untuk mengatasi dampak dari bencana yang mungkin terjadi. Untuk itu diperlukan suatu proses perencanaan yang matang agar implementasi DRC berjalan efektif dan efisien. Rencana yang disusun tidak hanya mencakup aktivitas data processing, tetapi meliputi semua aspek di luar operasi data processing. Rencana tersebut harus meliputi prosedur yang telah diuji untuk meyakinkan keberhasilan proses recovery saat bencana benar-benar terjadi. Rencana yang sudah tersusun didokumentasikan dalam bentuk tulisan

Prosedur Disaster Recovery Plan merupakan penjabaran teknis tentang langkah-langkah atau proses pelaksanaan kegiatan recovery. Adapun kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahap ini adalah :

  1. Reduction/Readiness/Prevention adalah kegiatan untuk mereduksi dampak disaster terhadap sistem kritikal yang digunakan  dan persiapan tentang segala hal yang diperlukan untuk melindungi sistem kritikal  pada saat terjadi disaster.
  2. Response merupakan kegiatan yang harus dilakukan pertama kali pada saat terjadi disaster. Kegiatan yang dilaksanakan biasanya berupa kegiatan-kegiatan penaggulangan terkait dengan bisnis atau BCP, ditambah dengan proses analisis dampak disaster serta pengambilan keputusan mengenai kegiatan apa yang dilakukan untuk melakukan recovery terhadap sistem TI yang kritikal berdasarkan dampak disaster yang timbul.
  3. Recovery merupakan kegiatan untuk memulihkan fungsi sistem TI yang kritikal dengan kapasitas sama persis atau kurang dari kapasitas sistem TI kritikal pada kondisi normal. Biasanya hasil dari kegiatan ini merupakan pemulihan sistem yang bersifat sementara, dimana akan ada kegiatan untuk mengembalikan fungsi sistem TI yang kritikal dengan kapasitas sama dengan atau bahkan lebih dari kapasitas sistem normal sebelumnya.  Strategi recovery tertentu yang diputuskan bisa diterapkan pada seluruh sistem TI yang Kritikal yang terimbas disaster.
  4. Restoration/Normalization merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengembalikan sistem TI kritikal  beserta sistem pendukungnya pada fungsi dan kapasitas minimal seperti sebelum terjadinya disaster.

Sumber:http://www.ristinet.com/index.php?ch=8&lang=&s=d393cfd993bce4dd308ab1356deb47ff&n=227

Tembang Lir Ilir April 16, 2011

Posted by wijasena in religi.
add a comment

Sebagai orang jawa tembang Ilir-ilir mendapat tempat yang berbeda, karena muatan yang terdapat didalamnya mempunyai nilai-nilai luhur tentang Agama Islam, fundamental ajaran, petuah yang sangat agung. Tembang lir-ilir dalam riwayat Raden Sahid atau lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijogo diciptakan oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat, Sunan Kalijogo adalah salah satu wali dari sembilan wali penyebar agama islam di tanah Jawa. Tembang lir-ilir adalah salah satu tembang yang populer dikalangan orang Jawa. Di dalam tembang ini terdapat makna religius yang disampaikan lewat syair-syairnya. Tembang karya Kanjeng Sunan ini memberikan hakikat kehidupan dalam bentuk syair yang indah. Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University terkagum kagum dengan tembang ini, beliau sering memainkannya. Para pemain Harpa seperti Maya Hasan (Indonesia), Carrol McLaughlin (Kanada), Hiroko Saito (Jepang), Kellie Marie Cousineau (Amerika Serikat), dan Lizary Rodrigues (Puerto Rico) pernah menterjemahkan lagu ini dalam musik Jazz pada konser musik “Harp to Heart“. Menurut G Surya Alam, dalam bukunya Wejangan Sunan Kalijaga, tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung nasehat atau wejangan untuk menjadi seorang Muslim yang baik. Secara Global makna yang tersirat dalam syair-syair tembang tersebut adalah ajakan untuk menindakkan rukun Islam dan berbuat kebaikan.

Lir-ilir, lir-ilir tandure wis sumilir

Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar

Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi 

Lunyu-lunyu yo penekno kanggo mbasuh dodot iro

Dodot iro-dodot iro kumitir bedhah ing pinggir 

Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore 

Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane Yo surako… surak hiyo…


Sayup-sayup bangun (dari tidur)

Pohon sudah mulai bersemi,

Demikian menghijau bagaikan gairah pengantin baru

Anak penggembala, tolong panjatkan pohon blimbing itu,?

walaupun licin(susah) tetap panjatlah untuk mencuci pakaian

Pakaian-pakaian yang koyak(buruk) disisihkan

Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore

Mumpung terang rembulannya

Mumpung banyak waktu luang

Mari bersorak-sorak ayo…


Lir-ilir dalam baris pertama dari tembang tersebut adalah merupakan ungkapan ajakan yang dalam bahasa jawa berarti terbangun setelah tidur (ngilir). Yang dimaksud tidur disini adalah orang-orang yang belum masuk Islam. Maka syair lir-ilir diulang-ulang agar mereka terbangun dan tersadar dan menuju kepemikiran yang lebih segar (masuk dalam Agama Islam).

Bagi kita yang sudah muslim perlu dikaji lagi, apa yang perlu untuk dibangunkan? Apa yang perlu dihidupkan? hidupnya Apa ? Ruh? kesadaran ? Pikiran? terserah kita yang penting ada sesuatu yang dihidupkan.  Ini adalah ajakan untuk berdzikir. Dengan berdzikir, maka ada sesuatu yang dihidupkan.

Tandure Wus Sumilir, benih-benih pohon sudah mulai tumbuh. Yaitu benih-benih iman yang sudah mulai tumbuh dalam hati,  maka rawatlah benih-benih itu agar bersemi dan tumbuh dengan baik, karena saat benih itu tumbuh dengan baik maka akan mengeluarkan buah yang baik pula. Misalnya apabila benih tersebut dirawat dengan baik dan disirami dengan air jernih (Istighfar, Sholawat, membaca Qur’an dll) maka niscaya tumbuhan tersebut akan tumbuh dengan baik. Tak ijo royo-royo, mengandung arti bahwa tumbuhan itu tumbuh dengan subur. Tidak terkena hama atau penyakit lainya dan sejuk dipandang. Dengan demikian kalau sudah berdzikir maka disitu akan didapatkan manfaat yang dapat menghidupkan pohon yang hijau dan indah. Pohon disini artinya adalah sesuatu yang memiliki banyak manfaat bagi kita.

Tak sengguh penganten anyar, lalu bermakna, bahwa pribadi yang baik dan sikap yang sopan, akan disenangi banyak orang. Karena itu, dirinya bagaikan sepasang pengantin baru yang disambut gembira oleh khalayak.

Makna yang dapat dipetik dari tembang Ilir-Ilir pada bait pertama ini adalah, sebagai umat Islam kita diminta bangun. Bangun dari keterpurukan, bangun dari sifat malas untuk lebih mempertebal keimanan yang telah ditanamkan oleh Allah SWT dalam diri kita yang dalam ini dilambangkan dengan tanaman yang mulai bersemi dan demikian menghijau. Terserah kepada kita, mau tetap tidur dan membiarkan tanaman iman kita mati atau bangun dan berjuang untuk menumbuhkan tanaman tersebut hingga besar dan mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru.

Selanjutnya, pada bait kedua dari tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi setiap muslim, dalam membentuk jiwa yang kuat, pemberani, tanpa kenal lelah dan putus asa. Sehingga akan membentuk pribadi-pribadi yang sabar, pantang menyerah demi sebuah cita-cita yang mulia.

Kata Cah angon’ maknanya adalah wahai anak gembala. Disini disebut anak gembala karena oleh Alloh, kita telah diberikan sesuatu untuk digembalakan yaitu HATI. Bisakah kita menggembalakan hati kita dari dorongan hawa nafsu yang demikian kuatnya? Sebab, nafsu itu bila tidak digembalakan (diarahkan) maka si gembala dapat terjerumus kedalam lubang yang berbahaya. Dirinya bisa melakukan perbuatan maksiat dengan bebas, karena tidak ada yang di-angon (gembalakan).  Disebutkan sebanyak dua kali, yaitu ‘cah angon, cah angon‘ menunjukkan adanya perintah yang harus dilaksanakan.

Apakah perintah yang dimaksud itu? ‘Penekno blimbing kuwi’, artinya panjatlah pohon belimbing itu. Mengapa pula Sunan Kalijaga memakai kata ‘Blimbing’ dalam tembangnya ini? Tentu maksudnya adalah rukun Islam harus ditegakkan. Buah belimbing memiliki lima sisi, yang masing-masing sisi itu dimaknai dengan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (bila mampu). Kelima rukun Islam ini harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim agar dapat membentuk dirinya menjadi insan kamil, yaitu manusia yang sempurna.

Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Kendati licin, tetap harus dipanjat, demi membersihkan ‘pakaian batin’ yang kotor. Maksudnya, walaupun perintah itu sulit dilalui, namun ia harus tetap melewati dengan melaksanakannya,Lalu apa gunanya? Gunanya adalah untuk mencuci pakaian kita yaitu pakaian taqwa. Berbagai ujian dan cobaan selalu dihadapinya dengan kesabaran, kepasrahan, dan tawakkal kepada Allah. Dan dia akan senantiasa melalui ujian itu dengan lapang dada, kendati terasa berat, sebab banyak godaannya. Namun, Allah menjelaskan, Dia tidak akan menguji atau membebankan suatu perintah kepada hambanya diluar batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba tersebut.

”Laa yukallifullahu nafsan Illa wus’aha,” Allah tidak membenani seseorang itu, kecuali sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (QS Al-Baqarah : 286).

Persiapkan Bekal Akhirat Dodot iro, dodot iro, Kumitir bedah ing pinggir, Dondomana Jlumatana, Kanggo seba mengko sore.

Maksud dari syair ini adalah pakaian taqwa kita sebagai manusia biasa pasti terkoyak dan berlubang di sana sini, untuk itu kita diminta untuk selalu memperbaiki dan membenahinya agar kelak kita sudah siap ketika dipanggil menghadap kehadirat Alloh SWT. Oleh karena itu setiap muslim hendaknya melakukan taubat yang sesungguhnya, mau memperbaiki kesalahannya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Dalam bahasa Jawa, Dodot adalah ”ageman’ (pakaian) dalam menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. Sedangkan kata Kimitir bedah ing pinggirartinya banyaknya robekan-robekan pada bagian tepi pakaian itu, hendaknya segera dijahit. Sebab, pakaian yang cacat dan rusak itu tentunya tidak pantas lagi untuk dipakai. Agar pantas digunakan lagi, maka perbaikilah.

Itulah makna dari Dondomana Jlumatana artinya, jahirlah bagian yang robek itu. Begitulah halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak, hendaknya kita bertobat dan mau memperbaiki kesalahan tersebut serta tidak mengulanginya lagi. Itulah yang dinamakan dengan taubat nasuha (taubat yang sesungguhnya).

Dengan demikian, segala perbuatan yang sudah kita perbaiki tujuannya adalah sebagai bekal kita di kehidupan akhirat kelak. Disinilah makna dari Kanggo seba mengko sore. Perjalanan manusia selama di dunia ini hanyalah sebagai persinggahan sementara. Awalnya dia berangkat, kemudian kembali. Pagi dia kerja, sore sudah kembali.

Jadi, perbuatan yang baik seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan lain sebagainya itu, tujuannya adalah sebagai bekal umat Islam untuk di kehidupan akhirat. Adalah pesan dari para Wali bahwa suatu ketika kamu akan mati dan akan menemui Sang Maha Pencipta untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatanmu. Maka benahilah dan sempurnakanlah ke-Islamanmu agar kamu selamat pada hari pertanggungjawaban kelak.

Mumpung Padang Rembulane, Mumpung Jembar kalangane.

Selagi masih ada waktu, bersegeralah memperbaiki diri. Mumpung terang sinar rembulannya, dan mumpung luas waktunya. Sebab, bila sudah malam hari tanpa sinar rembulan, maka orang tak akan dapat melihat apa-apa. Ini dimaksudkan, di saat gelap orang akan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Acapkali yang baik dijelekkan, dan yang jelek dibagus-baguskan.

Artinya, selagi masih muda, selagi sinar rembulan masih memancar, segeralah berbuat kebaikan, dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan. Waktu yang ada, jangan disia-siakan tanpa guna dan berlalu begitu saja tanpa hasil.

Bila semua itu bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka bergembiralah. Yo surak o, sorak hayo. Sebab, segala kewajiban yang dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka kehidupan di akhirat nanti akan mendapatkan balasan yang baik pula. Karena itu, berbahagialah mereka yang mampu melaksanakan segala kewajiban dengan baik, tanpa cacat sedikit. Sambutlah seruan ini dengan sorak sorai “mari kita terapkan syariat Islam” sebagai tanda kebahagiaan.

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu (Al-Anfal :25)

Demikianlah kiranya, makna terdalam dari tembang syair ‘Ilir-Ilir’ yang disyiarkan oleh Sunan Kalijaga bagi setiap muslim untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih baik. Wa Allahu A’lamu.

 

Sumber :

Facebooknya mbak Ilma, terima kasih atas kiriman notenya, sangat mencerahkah.

http://main.man3malang.com/index.php?name=News&file=article&sid=2144

http://www.pak-professor.com dan sumber lainnya.

Revitalisasi Polri Menuju Pelayanan Prima guna Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat October 20, 2010

Posted by wijasena in Polmas.
add a comment

REVITALISASI POLRI MENUJU PELAYANAN PRIMA GUNA MENINGKATKAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT Disampaikan oleh: KOMJEN POL Drs. TIMUR PRADOPO PADA UJI KEPATUTAN DAN KELAYAKAN CALON KAPOLRI DIHADAPAN KOMISI III DPR RI TANGGAL 14 OKTOBER 2010

Ysh. – Ketua Komisi III DPR RI

- Para Wakil Ketua Komisi III DPR RI

- Bapak/Ibu Anggota Komisi III DPR RI Yang Saya Muliakan,

Assalamualaikum Wr. Wb.

Salam Sejahtera Bagi Kita Semua Pada kesempatan ini perkenankan saya mengajak Bapak/Ibu anggota dewan yang terhormat untuk bersama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas perkenannya jualah kita dapat berkumpul dan bersilaturahmi di ruangan ini untuk menjalankan amanah konstitusional dalam rangka estafet kepemimpinan Polri guna kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara Republik Indonesia.

Selanjutnya saya haturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak/Ibu anggota dewan yang terhormat, atas perkenannya memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran melalui uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di hadapan para anggota dewan yang terhormat. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada Jenderal Polisi Drs. H. Bambang Hendarso Danuri, MM yang telah meletakkan landasan pembenahan Polri dalam kerangka reformasi birokrasi Polri, sehingga menjadi kewajiban kami beserta seluruh generasi penerus Polri untuk melanjutkan pembenahan Polri yang telah dirintis selama periode kepemimpinan beliau, agar Polri dapat memantapkan dirinya dalam menyongsong tugas-tugas yang semakin berat dan kompleks. Kemajuan yang dicapai oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia saat ini saya rasakan sangat membanggakan, hal tersebut tidak terlepas dari peran dan dukungan dari Bapak/Ibu anggota dewan yang terhormat, serta hasil kerja keras dari para senior pendahulu Polri yang telah meletakkan pondasi yang kokoh bagi organisasi Polri, sehingga memungkinkan terlaksananya pembangunan Polri hingga saat ini.

Selanjutnya menjadi kewajiban saya sebagai generasi penerus Polri untuk memelihara, meneruskan dan memperkuat organisasi Polri ke depan guna mampu menyesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis dan tantangan tugas Polri. Dalam uji kelayakan dan kepatutan ini, ijinkanlah saya memaparkan pokok-pokok pikiran tentang “Revitalisasi Polri menuju Pelayanan Prima guna Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat”. Pelayanan prima harus diwujudkan pada seluruh lingkup tugas pokok, fungsi dan peran Polri sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri. Selanjutnya dalam penyampaian pokok-pokok pikiran, saya menggunakan alur pikir yang berlandaskan pada kebijakan dan program yaitu visi dan misi Polri, Grand Strategy Polri Tahun 2005-2025, Renstra Polri Tahun 2010-2014, reformasi birokrasi Polri dan struktur organisasi Polri yang baru.

Selanjutnya menetapkan program revitalisasi Polri yang terangkum dalam road map berikut program revitalisasinya serta komitmen yang akan diwujudkan guna menuju Polri yang melayani, proaktif, transparan dan akuntabel, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap Polri semakin meningkat. Alur pikir yang saya sampaikan berawal dari Renstra Polri Tahap II Tahun 2010-2014 yang telah menetapkan visi Polri yaitu “Terwujudnya Pelayanan Kamtibmas Prima, Tegaknya Hukum dan Kamdagri Mantap serta Terjalinnya Sinergi Polisional yang Proaktif”, secara subtansi visi tersebut mengandung makna:

  1. “Terwujudnya pelayanan kamtibmas prima” adalah keadaan dalam masyarakat yang tumbuh rasa bebas dari gangguan dan ketakutan;
  2. “Tegaknya hukum” adalah suatu keadaan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang teratur, tertib dan adil;
  3. “Kamdagri mantap” adalah suatu keadaan di wilayah hukum NKRI yang bebas dari konflik sosial baik vertikal maupun horizontal dan bebas dari gangguan keamanan dan ketertiban umum;
  4. “Sinergi polisional yang proaktif” adalah kebersamaan antar unsur dan komponen negara dan masyarakat dalam mengambil langkah mengatasi potensi gangguan keamanan.

Dengan mempedomani visi Polri tersebut, maka langkah pencapaian sasaran strategis dirumuskan ke dalam misi Polri sebagai berikut:

  1. Melaksanakan deteksi dini dan peringatan dini melalui kegiatan operasi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan;
  2. Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan secara mudah, responsif dan tidak diskriminatif;
  3. Menjaga keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu-lintas untuk menjamin keselamatan dan kelancaran arus barang dan orang;
  4. Menjamin keberhasilan penanggulangan gangguan keamanan dalam negeri;
  5. Mengembangkan perpolisian masyarakat yang berbasis pada masyarakat patuh hukum;
  6. Menegakkan hukum secara profesional, proporsional, transparan dan akuntabel untuk menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan;
  7. Mengelola secara profesional, transparan, akuntabel dan modern seluruh sumber daya Polri guna mendukung operasional tugas Polri;
  8. Membangun sistem sinergi polisional interdepartemen dan lembaga internasional maupun komponen masyarakat dalam rangka membangun kemitraan dan jejaring kerja.

Bapak/ibu anggota dewan yang saya muliakan, Selaras dengan undang-undang nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025, Polri telah menjabarkannya ke dalam bingkai besar Grand Strategy Polri Tahun 2005-2025 yang mencakup 3 (tiga) tahapan waktu yaitu: Tahap I Tahun 2005-2009 membangun kepercayaan (trust building), Tahap II Tahun 2010-2014 membangun kemitraan (partnership building) dan Tahap III Tahun 2015-2025 menuju organisasi unggulan (strive for excellence).

Bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri menjadi prioritas pertama pada Renstra Polri Tahap I yang harus diwujudkan sebagai pondasi pelaksanaan Renstra Polri Tahap II Tahun 2010-2014, selanjutnya perjalanan pembangunan Polri saat ini telah memasuki Renstra Polri Tahap II Tahun 2010-2014, dengan sasaran membangun sinergi dengan seluruh komponen dan masyarakat yang disebut dengan partnership building, dan telah dijabarkan dalam program dan anggaran Polri yang selaras dengan arah kebijakan nasional Kabinet Indonesia Bersatu II di bidang Keamanan yaitu:

  1. Peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga kepolisian;
  2. Penerapan Quick Wins di seluruh wilayah NKRI;
  3. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM);
  4. Modernisasi teknologi kepolisian sebagai bagian dari reformasi birokrasi Polri;
  5. Pemantapan tata kelola pencegahan dan penanggulangan tindak terorisme, serta pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan tindak terorisme;
  6. Peningkatan profesionalisme yang diiringi kesejahteraan anggota Polri.

Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 yang mengamanatkan bahwa kelembagaan dan kementerian harus melaksanakan reformasi birokrasi pemerintah yang bertujuan untuk menciptakan aparatur negara yang bersih, profesional, transparan dan akuntabel guna menciptakan birokrasi yang efektif dan efisien sehingga dapat memberikan pelayanan publik yang baik. Berkenaan dengan hal itu, Polri telah merumuskan reformasi birokrasi Polri yang dilaksanakan secara bertahap dan terencana sejak bulan Desember tahun 2008, dan hingga saat ini reformasi birokrasi Polri dimaksud terus berjalan. Hal ini merupakan wujud dari keseriusan Polri untuk melakukan perubahan sebagai upaya peningkatan kualitas kinerja dalam menjalankan tugas pokok Polri. Esensi reformasi birokrasi adalah bagaimana menerapkan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas yang merupakan bagian dari good governance.

Berdasarkan hal tersebut, maka reformasi birokrasi Polri telah menetapkan 5 (lima) agenda utama, yaitu:

  1. Evaluasi kinerja dan postur Polri 2025;
  2. Restrukturisasi organisasi Polri;
  3. Quick wins;
  4. Manajemen perubahan budaya;
  5. Manajemen sumber daya manusia dan remunerasi.

Restrukturisasi organisasi Polri bertujuan membangun organisasi Polri yang efektif, efisien, akuntabel dan transparan sesuai dengan dinamika perubahan lingkungan strategis dan tantangan tugas yang dihadapi. Hasilnya adalah disahkannya Peraturan Presiden Nomor 52 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia dan disahkannya Peraturan Kapolri Nomor 21, 22 dan 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Polri pada Tingkat Mabes Polri, Polda, Polres dan Polsek. Dalam struktur organisasi Polri yang baru terdapat beberapa perubahan mendasar yaitu penguatan fungsi utama kepolisian, memperbanyak sebaran pelayanan Polri ke titik pelayanan terdepan, dan mengintegrasikan seluruh lembaga pendidikan/sekolah Polri dalam satu sistem. Selain itu terdapat perubahan lain yang terkait dengan model dan tipe organisasi, nomenklatur dan titelatur, unsur-unsur tataran struktur organisasi, pengelompokan fungsi utama dan pendukung, serta eselonisasi. Seperti yang telah saya sampaikan bahwa 5 (lima) agenda utama reformasi birokrasi Polri telah dijabarkan dalam program-program yang lebih detail, yaitu:

  1. Evaluasi kinerja dan profil Polri 2025, melalui:
  • Evaluasi kinerja Polri (kuantitatif dan kualitatif);
  • Perumusan profil Polri 2025;

2. Restrukturisasi organisasi dan tata laksana, melalui:

  • Perancangan ulang struktur organisasi Polri;
  • Analisis beban kerja;
  • Identifikasi, inventarisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) atau Prosedur Tetap (PROTAP);

       3.  Program Quick Wins, melalui:

  • Identifikasi bidang kerja yang dirasakan langsung oleh masyarakat;
  • Rencana aksi Quick Wins;
  • Pemantauan pelaksanaan Quick Wins;

       4.  Manajemen perubahan dan transformasi budaya, melalui:

  • Internalisasi dan sosialisasi reformasi birokrasi Polri;
  • Transformasi budaya organisasi;

       5.  Manajemen sumber daya manusia dan remunerasi, melalui:

  • Review penyempurnaan strategi, kebijakan, dan sistem manajemen sumber daya manusia;
  • Perumusan remunerasi.

Bapak/ibu anggota dewan yang saya muliakan, Sebelum saya menyampaikan kerangka revitalisasi Polri, pada kesempatan ini akan saya uraikan kondisi Polri secara umum sebagai berikut:

  1. Pemeliharaan situasi kamtibmas serta penanganan daerah rawan kontinjensi telah dapat dikelola secara kondusif dengan kegiatan rutin dan operasi kepolisian yang ditandai dengan pelaksanaan pengamanan pemilukada dan pemilu tahun 2009 dapat berjalan dengan aman dan lancar.
  2. Penanganan 4 (empat) jenis tindak pidana (kejahatan konvensional, transnational crime, kejahatan terhadap kekayaan negara, kejahatan yang berimplikasi kontinjensi), khususnya penanganan transnational crime telah dapat membentuk opini bahwa Polri mampu mengatasi terorisme di indonesia;
  3. Berkembangnya fenomena dalam kehidupan masyarakat yang menganggap kurangnya respon Polri, sehingga menimbulkan tindakan masyarakat yang bersifat massive dan anarkis;
  4. Melalui dukungan dan perhatian dari bapak/ibu anggota dewan yang terhormat dengan telah mengupayakan penyediaan anggaran Polri yang setiap tahunnya mengalami kenaikan sehingga dapat meningkatkan kinerja dan profesionalisme Polri;
  5. Hasil penilaian BPK RI pada pemeriksaan tahun buku 2009 atas laporan keuangan Polri T.A. 2009 yang sudah mendapatkan opini penilaian “wajar tanpa pengecualian (WTP)”;
  6. Hasil penilaian tim independen reformasi birokrasi nasional terhadap pelaksanaan program reformasi birokrasi Polri pada pertengahan Juli tahun 2010 yang memberikan nilai 3,51 dalam skala 1 sampai dengan 4 (setara dengan nilai 87,5);
  7. Beberapa satuan kerja Polri telah memperoleh Sertifikasi ISO yang menggambarkan kualitas proses kerja. Saya menyadari bahwa pelaksanaan tugas dan kinerja Polri sampai dengan saat ini masih belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan dan tuntutan masyarakat.

Dari berbagai masukan diharapkan personel Polri mampu mewujudkan :

  1. Peningkatan kinerja dan akuntabilitas Polri yang lebih baik, khususnya pada pelayanan Polri di wilayah terpencil termasuk wilayah perairan timur indonesia;
  2. Peningkatan kecepatan pelayanan, perlindungan dan bantuan pertolongan kepada masyarakat dalam rangka pemeliharaan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat, serta menjamin keselamatan dan keamanan umum;
  3. Penegakkan hukum yang tegas, tidak diskriminatif, memenuhi rasa keadilan masyarakat, terjaminnya transparansi dalam proses penyidikan perkara, dan adanya kepastian hukum bagi para pencari keadilan;
  4. Peningkatan kapasitas peran dan fungsi intelijen kepolisian yang lebih mampu memberikan early detection dan analisis intelijen dalam rangka langkah antisipasi untuk tidak semakin berkembangnya situasi kamtibmas menjadi semakin destruktif;
  5. Kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi publik atas pelayanan publik yang berkaitan dengan pelaksana-an tugas dan kinerja Polri;
  6. Selain harapan dan tuntutan masyarakat tersebut di atas, dari hasil evaluasi internal atas kinerja Polri diperoleh rincian harapan masyarakat, kementerian/lembaga pemerintah sebagai berikut:

a.   Keberadaan Polri di tengah-tengah masyarakat dapat memberikan rasa aman dan tenteram;

            b.   Polri mampu memberikan pelayanan yang prima, tidak mempersulit, cepat dan tuntas dalam menyelesaikan

                  masalah;

            c.  Penampilan personel Polri yang simpatik, humanis tapi tegas;

            d.  Keterbukaan dan tanggung jawab Polri dari setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan;

            e.  Terwujudnya postur Polri yang bersih, mandiri dan profesional;

            f.  Mendambakan penampilan Polri yang santun, bermoral dan modern.

Mengacu kepada tuntutan dan harapan tersebut, saya berpendapat bahwa perlu adanya semangat untuk melakukan revitalisasi Polri guna menjawab perkembangan lingkungan strategis dan kompleksitas tantangan tugas Polri. Revitalisasi mengandung arti menjadikan sesuatu menjadi vital, bermanfaat atau penting kembali dengan memberikan sentuhan-sentuhan baru. Saya memandang revitalisasi dalam tubuh Polri sebagai langkah untuk menghidup-kan, membangun dan memberdayakan kembali nilai-nilai kemampuan yang telah dimiliki Polri di segala bidang, yang selama ini belum dapat diwujudkan secara maksimal untuk menghadapi tantangan tugas Polri. Adapun paradigma dari proses revitalisasi tersebut adalah sikap yang melayani, proaktif, transparan dan akuntabel, dimana paradigma tersebut dapat mendorong terwujudnya pelayanan prima, yang pada gilirannya di satu sisi dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat, dan di sisi lain juga dapat meneguhkan soliditas internal Polri. Jika saya memperoleh amanah mengemban tanggung jawab jabatan sebagai kaPolri pada periode berikutnya, maka saya akan melakukan program revitalisasi Polri yang terangkum dalam road map atau peta jalan, yang saya targetkan akan terealisasi pada masa jabatan saya sebagai kaPolri. Adapun kerangka Road Map tersebut terdiri dari:

  1. Penguatan institusi (institution strengthening). Merupakan langkah penguatan institusional yang berkelanjutan dari seluruh kebijakan dan program yang telah dirintis dan berjalan selama ini, guna menjamin kesinambungan organisasi Polri dalam mencapai visi dan misinya.
  2. Terobosan kreatif (creative breakthrough). Adalah program-program terobosan kreatif untuk lebih meningkatkan kinerja Polri secara signifikan agar dapat segera terlihat dan dirasakan secara nyata manfaatnya oleh masyarakat dan stakeholder lainnya.
  3. Peningkatan integritas (integrity improvement). Merupakan peneguhan dedikasi dan loyalitas seluruh personel Polri dalam menjalankan tugas pokok, fungsi dan perannya dengan sebaik-baiknya disertai peningkatan peran pengawasan guna memelihara akuntabilitas kinerja baik perorangan maupun organisasi. Bahwa ketiga kerangka road map revitalisasi Polri tersebut merupakan satu kesatuan yang saya yakini mampu merevitalisasi peran Polri untuk menjadikan Polri lebih melayani, proaktif, transparan dan akuntabel, sehingga lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat dan soliditas internal.

Selanjutnya dalam mengimplementasikan ketiga kerangka revitalisasi Polri tersebut di atas, telah ditetapkan sasaran revitalisasi Polri untuk mewujudkan pelayanan prima dengan indikator sebagai berikut:

  1. “Polri yang melayani”, adalah memberikan pelayanan kepolisian yang lebih cepat, lebih mudah, lebih baik dan lebih nyaman bagi masyarakat dengan memenuhi standar mutu pelayanan dan tingkat kepuasan masyarakat. Secara eksternal menjadikan Polri sebagai public service organization (pso), dan secara internal menerapkan budaya atasan melayani bawahan (servant leadership);
  2. “Polri yang proaktif”, adalah mengetahui secara dini kondisi yang apabila tidak segera mendapat respon berpotensi menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban, serta menjalin kerjasama yang sinergis dengan pemangku kepentingan untuk dapat mengatasi dengan solusi yang tepat. Secara eksternal diharapkan dapat meningkatkan kepekaan, responsif, inisiatif dan tegas mengatasi pelanggar hukum dan secara internal bertindak proaktif mencegah pelanggaran dan penyimpangan serta mengambil tindakan tegas terhadap personel Polri yang melanggar hukum.
  3. “Polri yang transparan”, adalah memberikan informasi yang diperlukan masyarakat secara proporsional. Secara eksternal dengan membuka akses informasi kepada pemangku kepentingan, dan secara internal bersikap terbuka, bersedia menerima komplin dan dapat memberikan respon yang baik;
  4. “Polri yang akuntabel”, adalah pertanggungjawaban pelaksanaan tugas pokok dengan selalu mengikuti kaidah hukum dan prosedur baku, serta bertindak sesuai norma dan etika. Secara eksternal melakukan penanganan perkara secara tegas dan tuntas, tidak diskriminatif, memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum, dan secara Internal menekankan agar personel Polri dalam mengemban tugas selalu dengan penuh rasa tanggung jawab;

Kerangka road map revitalisasi tersebut akan menjadi pedoman saya untuk mewujudkan Polri yang melayani, proaktif, transparan dan akuntabel serta mengimplemen-tasikan program revitalisasi, yang diikuti dengan pemenuhan kaidah taat hukum, taat prosedur dan taat etika, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap Polri meningkat. Bapak/ibu anggota dewan yang saya muliakan, Penguatan yang berkesinambungan adalah merupakan ciri suatu organisasi yang baik, proses ini menunjukkan penguatan dan pengembangan secara terus menerus serta perbaikan yang tak kunjung usai sepanjang waktu. Banyak hal yang telah dilakukan dan dihasilkan namun saya memandang perlu dilakukan penguatan dan optimalisasi demi tercapainya tujuan organisasi Polri sesuai dengan harapan masyarakat. Rasanya kita sependapat perlunya mengembangkan budaya untuk melanjutkan upaya penguatan tersebut secara terus menerus guna mewujudkan implementasi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Dalam kerangka road map revitalisasi Polri yang pertama “penguatan Polri secara berkelanjutan” terdapat 2 (dua) hal yang menjadi pokok program revitalisasi yaitu melanjutkan visi dan misi Polri, serta melakukan peningkatan kinerja melalui akselerasi program prioritas yang sedang berjalan. Selain penguatan institusi sebagai peneguhan langkah untuk mencapai visi dan misi Polri, aspek lain yang perlu diperkuat dan dioptimalkan adalah pelaksanaan program reformasi birokrasi Polri sebagaimana ketentuan peraturan menteri pendayagunaan aparatur negara dan refor-masi birokrasi nomor 15 tahun 2008, terutama terhadap hal-hal yang sangat mendasar berkaitan dengan peningkatan kinerja yang diikuti dengan memacu perubahan budaya yang mencakup perubahan pola pikir (mind set), dan budaya kerja (culture set). Untuk mengatasi program-program yang stagnan di beberapa bidang, terutama bidang pelayanan, pengembangan sumber daya manusia dan pengembangan institusi secara menyeluruh, diperlukan program terobosan kreatif untuk memecah kebuntuan dan kemandegan. Untuk itulah dalam kerangka road map revitalisasi Polri yang kedua “solusi inovatif untuk peningkatan kinerja” terdapat 4 (empat) hal yang menjadi pokok program revitalisasi yaitu program terobosan kreatif berupa; pengembangan infrastruktur pelayanan, penataan sistem manajemen berbasis kompetensi, penataan sistem manajemen kinerja, dan pengembangan informasi dan teknologi kepolisian. Sedangkan dalam kerangka road map revitalisasi Polri yang ketiga “peningkatan integritas”, saya menggagas pemikiran untuk melakukan penguatan integritas yang disertai peningkatan pengawasan ke dalam institusi Polri, hal ini dikarenakan selama ini pengawasan lebih banyak datang dan dilakukan oleh pihak eksternal, padahal secara esensi pengawasan yang paling hakiki adalah pengawasan yang dilakukan sejak dini oleh diri sendiri. Sehingga integritas pribadi menjadi benteng pertama dan terakhir untuk mencegah terjadinya penyimpangan. Dengan penguatan integritas, maka pengawasan akan lebih mudah, demikian pula sebaliknya. Kerangka road map ketiga ini merupakan penyeimbang sekaligus pendorong keberhasilan road map pertama dan kedua, dimana perbaikan kesejahteraan harus disertai mekanisme pengawasan yang lebih baik dan akuntabel, dengan demikian akan tercipta keseimbangan antara reward and punishment. Untuk itulah saya akan mewajibkan semua anggota Polri menandatangani “kontrak kinerja”, serta pemberian penghargaan kepada personel Polri yang berintegritas terbaik, dan memberi sanksi tegas bagi yang melakukan pelanggaran. Sedangkan peningkatan pengawasan juga bertujuan untuk mewujudkan kepuasan publik serta kepuasan anggota Polri sendiri dan mewujudkan sinergi antara pengawasan internal dan eksternal dengan prinsip internal mendukung eksternal (ime) dan eksternal memanfaatkan internal (emi). Pelibatan peran pengawas eksternal dalam kemitraan yang harmonis akan mendorong tercapainya akuntabilitas Polri.

Bapak/ibu anggota dewan yang saya muliakan, Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa program quick wins Polri yang telah di launching oleh bapak presiden republik indonesia pada tanggal 30 januari 2009, yang meliputi 4 (empat) program unggulan yaitu; quick response patroli sabhara, transparansi penyidikan melalui sp2hp, transparansi pelayanan penerbitan sim, stnk, bpkb, dan transparansi rekrutmen personel Polri, tetap ditindaklanjuti dengan inovasi dan dikembangkan untuk lebih meningkatkan implementasinya. Untuk kedepan, saya merencanakan 10 (sepuluh) program prioritas yang dimaksudkan untuk mendorong terwujudnya pelayanan prima yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri.

Adapun kesepuluh program prioritas tersebut meliputi:

  1. Pengungkapan dan penyelesaian kasus-kasus menonjol;
  2. Meningkatkan pemberantasan preman, kejahatan jalanan, perjudian, narkoba, illegal logging, illegal fishing, illegal mining, human trafficking dan korupsi;
  3. Penguatan kemampuan densus 88 anti teror, melalui peningkatan kerjasama dengan satuan anti teror tni dan badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT);
  4. Pembenahan kinerja reserse dengan program “keroyok reserse” melalui peningkatan kompetensi penyidik;
  5. Implementasi struktur organisasi Polri yang baru;
  6. Membangun kerja sama melalui sinergi polisional yang proaktif dalam rangka penegakan hukum dan ham;
  7. Memacu perubahan mind set dan culture set Polri;
  8. Menggelar sentra pelayanan kepolisian (SPK) di berbagai sentra kegiatan publik;
  9. Mengembangkan layanan pengadaan sistem elektronik (LPSE);
  10. Membangun dan mengembangkan sistem informasi terpadu serta persiapan pengamanan pemilu 2014;

Agar pelaksanaan 10 (sepuluh) program prioritas berjalan dengan efektif dan mencapai sasaran yang diinginkan, maka pelaksanaannya dibagi ke dalam pentahapan kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2013. Pentahapan tersebut sesuai dengan tingkat prioritas berdasarkan tingkatan manfaat dan perhatian masyarakat. Pentahapan 10 (sepuluh) program prioritas tersebut dibagi dalam 4 (empat) periode waktu secara berlanjut dan berkesinambungan dengan rincian sebagai berikut:

  1. Tahap kesatu, 100 hari pertama (November 2010 s/d Januari 2011) meliputi:

 - Pengungkapan dan penyelesaian kasus-kasus menonjol;

 - Meningkatkan pemberantasan terhadap kejahatan yang meresahkan masyarakat, yaitu preman, kejahatan jalanan, perjudian dan narkoba, serta kejahatan yang merugikan kekayaan negara yaitu illegal logging, illegal fishing, illegal mining, human trafficking dan korupsi;

      2.  Tahap kedua, Februari-Desember 2011, meliputi:

- Penguatan kemampuan densus 88 anti teror melalui peningkatan kerja sama dengan satuan anti teror TNI dan BNPT – Pembenahan reserse melalui program “keroyok reserse”

- Implementasi struktur organisasi Polri yg baru;

- Membangun kerja sama melalui sinergi polisional yang proaktif dalam rangka penegakan hukum & ham.

     3.  Tahap ketiga, Januari-Desember 2012, meliputi:

- Memacu perubahan mind set dan culture set Polri;

- Menggelar SPK di berbagai sentra kegiatan publik;

- Layanan pengadaan sistem elektronik (LPSE);

     4.  Tahap keempat, Januari-Desember 2013, yaitu:

- Membangun dan mengembangkan sistem informasi terpadu persiapan pengamanan pemilu 2014.

Bapak/ibu anggota dewan yang saya muliakan, Saya menyadari bahwa komitmen kepemimpinan merupakan faktor yang penting di dalam menentukan perjalanan organisasi Polri kedepan. Komitmen adalah “janji hati untuk membawa kepemimpinan secara bersama-sama mencapai keberhasilan yang didambakan”. Bagi saya, komitmen terhadap Polri adalah sebuah janji kesetiaan hidup, di dalam mendedikasikan kepemimpinan bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Oleh karenanya, pada kesempatan ini dihadapan bapak/ibu anggota dewan yang terhormat, perkenankanlah saya untuk menyampaikan komitmen saya apabila mendapat kepercayaan dan amanah untuk melanjutkan kepemimpinan Polri mendatang.

Bahwa saya berjanji akan melaksanakan 10 (sepuluh) komitmen revitalisasi sebagai berikut:

  1. Menjunjung tinggi supremasi hukum dengan menegakkan hukum dan selalu bertindak sesuai dengan ketentuan hukum, memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum;
  2. Memastikan penuntasan penanganan perkara yang memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum, serta diinformasikan penanganannya secara transparan kepada masyarakat;
  3. Memberikan pelayanan publik yang lebih baik, lebih mudah, lebih cepat, lebih berkualitas, lebih nyaman dan memuaskan bagi masyarakat;
  4. Membangun kerjasama dengan seluruh stakeholder dalam berbagai bidang yang terkait dengan tugas pokok, fungsi dan peran Polri, termasuk bentuk kerjasama dalam bidang keamanan, pelayanan, pengembangan sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, serta pengawasan;
  5. Menjaga integritas dengan bersikap menyalahgunakan wewenang, bertanggung jawab, transparan dan menjunjung tinggi ham, etika dan moral serta bersikap netral, jujur dan adil dalam penegakan hukum dan kegiatan politik;
  6. Menunjukkan sikap kepemimpinan tauladan yang melayani dan memberdayakan bawahan;
  7. Bekerja dengan hati, tulus ikhlas dalam tugas dan pengabdian serta mencurahkan segenap kemampuan, pemikiran, waktu dan tenaga untuk keberhasilan Polri;
  8. Menerapkan prinsip reward and punishment dengan memberikan penghargaan terhadap anggota yang berprestasi serta memberi sanksi yang tegas bagi personel Polri yang melanggar hukum, kode etik dan disiplin Polri;
  9. Menjamin keberlanjutan kebijakan dan program yang telah dilaksanakan oleh pejabat kaPolri sebelumnya, sebagaimana yang tertuang pada grand strategi Polri 2005-2025, rencana strategis Polri 2010-2014, reformasi birokrasi Polri, dan akselerasi transformasi Polri;
  10. Taat asas dan berlaku adil, dengan bersikap dan berperilaku sesuai etika, prosedur, hukum dan ham yang dilandasi rasa keadilan.

Saya menyadari bahwa seorang Kapolri adalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. Dengan semakin kompleksnya permasalahan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat, untuk itulah semakin pentingnya meningkatkan sinergi dan dukungan dari masyarakat dan seluruh stakeholder, terutama dukungan dari bapak/ibu anggota dewan yang terhormat. Demikianlah pokok-pokok pikiran yang dapat saya sampaikan dihadapan bapak/ibu anggota dewan yang terhormat pada uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) kali ini, sebagai arah rencana yang akan saya lakukan dan komitmen yang akan saya wujudkan bilamana diberikan kepercayaan untuk mengemban amanah tugas mulia sebagai kaPolri. Secara pribadi sebagai manusia biasa, dengan tidak bermaksud berlindung pada segala keterbatasan diri saya, maka saya mengharapkan arahan, koreksi, dukungan bapak/ibu anggota dewan yang terhormat, dalam rangka menentukan pemimpin Polri yang akan membawa keberlangsungan perjalanan institusi kepolisian negara republik indonesia ke depan yang lebih baik sebagaimana harapan masyarakat, bangsa dan negara.

Sekian dan terima kasih,

Wassalamualaikum wr. Wb.

Fenomena Perut Six-Pack August 17, 2010

Posted by wijasena in Live Style.
add a comment

Memiliki otot perut yang berkotak-kotak/six-pack adalah idaman hampir semua pria. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, perut yang berkotak juga sudah menjadi salah satu syarat fisik yang ingin dimiliki juga oleh wanita, atau setidaknya perut yang rata. Gaya hidup yang tidak sehat membuat bentuk perut menjadi circle-pack/ six-month istilah untuk mengejek seseorang lelaki yang mempunyai bentuk perut yang bulat menyerupai kehamilan wanita di bulan ke-6.

Mendapatkan Perut Six-Pack
Perut yang berkotak atau lebih sering kita kenal dengan nama six-pack abs memiliki tempat tersendiri dalam kacamata dunia kebugaran. Meskipun biceps yang menonjol atau otot dada yang bidang dan tebal sering maupun latihan-latihan yang ditujukan untuk kedua jenis otot tersebut sering mendapatkan jatah tinta yang lebih banyak dalam ulasan di majalah kebugaran. Perut berkotak justru menjadi penutup atau finale yang melengkapi sebuah fisik yang terbentuk.

Mengapa Six-Pack Lebih Sulit Diraih?

Alasan pertama adalah mengenai kecenderungan biologis tubuh manusia dalam menyimpan lemak.
Ternyata tubuh manusia memiliki kecenderungan untuk menyimpan lemak paling banyak di daerah perut. Tubuh manusia memiliki kantong-kantong penyimpanan lemak yang lebih besar di daerah tersebut dibandingkan dengan bagian-bagian tubuh yang lain. Tambahkan kenyataan ini dengan kecenderungan genetik dari kebanyakan orang untuk menyimpan timbunan lemak di perut sebelum tubuh menyimpannya di tempat yang lain.

Alasan kedua, dengan banyaknya kapasitas penimbunan lemak pada perut, hal ini juga berarti tantangan untuk memiliki otot perut yang terlihat jelas menjadi lebih besar pula.
Seseorang bisa memiliki forearms yang berotot dan cukup vaskular (terlihat urat-urat yang menonjol) sebagai tanda komposisi lemak pada daerah tersebut yang rendah. Tetapi orang yang sama mungkin masih harus bekerja lebih keras untuk menurunkan kadar lemaknya ke tingkat yang lebih rendah lagi agar otot perutnya bisa terlihat berotot seperti forearms-nya.

Alasan ketiga, walaupun ada tantangan yang lebih besar seperti yang diuraikan pada alasan nomor dua, kita tidak bisa menghilangkan lemak hanya pada satu bagian tubuh tertentu saja, dalam hal ini bagian perut.
Hingga kini, menghilangkan lemak hanya pada bagian tubuh tertentu atau lebih sering dikenal dengan istilah spot-reduction hanya merupakan suatu teori yang tak pernah terbuktikan. Hingga saat ini, tidak pernah ada satupun ilmuwan dunia yang bisa menemukan kebenaran dari teori spot-reduction ini melalui jenis diet atau latihan apapun. Satu-satunya cara yang dikenal untuk spot-reduction adalah melalui prosedur yang sangat menyakitkan, sangat mahal harganya, dengan risiko ancaman kesehatan yang cukup besar pula yakni operasi sedot lemak (liposuction).

Untuk mendapatkan perut six-pack yang diidamkan ada rumusan yaitu 3 x 3 = 6. Ada empat elemen yang bisa didapat dari rumusan tersebut. Elemen pertama adalah angka 3 yang pertama, yang melambangkan 3 faktor utama fitnes: aktivitas fisik, pengaturan pola makan, dan istirahat. Elemen kedua adalah tentunya angka 3 yang kedua, yang berarti 3 latihan spesifik otot perut yang perlu dilakukan. Elemen ketiga adalah angka 3 yang ketiga, yang artinya 3 tips untuk masing-masing elemen gaya hidup fitnes. Dan elemen terakhir adalah angka 6 yang artinya six-pack sekaligus untuk menggambarkan juga bahwa mendapatkan perut berkotak-kotak tidaklah mudah dan butuh pengorbanan yang besar.

Elemen 3 Yang Kedua – Tiga Latihan Perut
Dalam menjalankan pola berlatih selama ini, saya menemukan tiga jenis latihan otot perut yang termasuk paling efektif. Tiga jenis latihan otot perut inilah yang paling sering digunakan  untuk mengasah bentuk dan kekuatan otot perut yang baik. Untuk hasil maksimal dan memungkinkan untuk melakukan sesuai dengan volume (skema set dan repetisi) yang saya uraikan di bawah, orang perlu mendedikasikan 1 hari khusus untuk melatih otot perut ini.

Hanging Leg Raises
Sesuai dengan prinsip latihan prioritas (priority training principle), lakukanlah latihan yang terberat dan paling efektif pada urutan pertama suatu sesi latihan, karena di saat tersebutlah otot dalam kondisi yang belum lelah. Hanging leg raises menurut sebagian orang memberikan target tekanan pada otot perut bagian bawah. Namun secara keseluruhan, berdasarkan pengalaman dan terbukti dari tes EMG (electromyography – tes yang mengukur tingkat kontraksi otot melalui sinyal listrik) latihan ini memberikan kontraksi terbesar pada semua bagian otot perut. Lakukan 3 set x 20 repetisi.

Decline Sit-Up / Crunch
Sit-up atau crunch dengan menggunakan bangku decline memberikan tantangan dan tekanan yang lebih besar daripada Sit-up atau crunch biasa. Hal ini dikarenakan tidak ada atau minimnya penyangga punggung saat melakukan gerakan negatif (turun) sehingga lebih sulit bagi perut untuk melakukan gerakan positif (naik). Lakukan 3 x 20 repetisi.

Machine Crunch
Gerakan ini memberikan tekanan maksimal pada otot perut tanpa membebani punggung bagian bawah. Kenyamanan inilah yang memungkinkan untuk memberikan fokus lebih pada tehnik gerakan yang benar agar tekanan dan kontraksi menjadi lebih kuat. Karena dirancang dengan pertimbangan biomekanik yang pintar, maka gerakan ini juga memungkinkan untuk mengaplikasikan kontraksi puncak (peak contraction). Mesin latihan perut ini mungkin tidak tersedia di semua pusat kebugaran, dan sebagai alternatif yang tak kalah baik adalah: ball crunchrope crunch pada mesin triceps pushdown. Lakukan sebanyak 3 x 20 repetisi (dengan kaki merapat untuk faktor kesulitan yang lebih tinggi) atau

Elemen 3 Yang Ketiga
Berhubung 3 elemen pertama sudah disebutkan pada pembahasan di atas, maka saya akan langsung menuju pada elemen 3 yang kedua, yaitu 3 tips dalam melaksanakan masing-masing faktor utama gaya hidup fitnes:

Aktivitas fisik:

  • Berlatihlah beban pada otot-otot utama tubuh
    Melatih otot utama tubuh seperti dada, punggung, bahu, paha, lengan, dan betis juga memberikan kontribusi signifikan untuk perut yang lebih langsing. Selain meningkatkan metabolisme tubuh secara signifikan untuk waktu yang cukup lama, latihan fisik untuk otot-otot tubuh yang lain juga sangat penting untuk membangun kekuatan otot perut dalam menjalankan latihan-latihan spesifik.
  • Lakukan cardio/aktivitas aerobik
    Latihan cardio adalah satu-satunya latihan yang memungkinkan fitnesmania untuk membakar lemak dan merangsang mitokondria (dapur pembakar lemak dalam tubuh) untuk menjadi lebih besar dan meningkat dalam kapasitas.
  • Latihlah otot perut secara spesifik
    Definisi atau garis-garis otot perut yang jelas tentunya tidak akan lengkap tanpa tonjolan-tonjolan otot perut itu sendiri. Dan satu-satunya cara untuk merangsang pertumbuhan otot perut secara maksimal adalah dengan melatihnya secara langsung dan khusus.

  1. Pengaturan pola makan:

  • Konsumsikan kalori yang lebih sedikit daripada kalori yang keluar
    Membakar lemak menuntut kita semua untuk masuk dalam kondisi defisit kalori, di mana energi yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman lebih sedikit daripada energi yang keluar dari tubuh melalui aktivitas fisik. Prinsip ini sangat penting untuk memastikan terpakainya cadangan energi lemak dalam tubuh.
  • Ketahui komposisi dan timing makan yang baik.
    Tanpa perlu berbasa-basi lagi, pastikan fitnesmania mengkonsumsi setidaknya 2 gram protein per kilogram berat badan per hari, 3 gram karbohidrat rendah indeks glikemi per kilogram berat badan per hari, dan 0,4 gram lemak esensial per kilogram berat badan per hari.
  • Pastikan penyajian makanan yang sehat dan optimal
    Hindari cara memasak dengan menggoreng ataupun tambahan minyak atau mentega apabila tidak perlu. Resep-resep masakan umum Indonesia yang kaya rempah dan bumbu masih bisa dimasak dengan varian yang rendah lemak dan rendah garam.

Istirahat:

  • Pastikan istirahat yang cukup
    Dalam beberapa literatur ditemukan, orang yang tidak mendapatkan istirahat cukup lebih memiliki kecenderungan makan berlebihan saat tidak tidur (beraktivitas di pagi, siang, dan sore hari). Dengan mendapatkan istirahat yang cukup, tubuh dan otak akan lebih optimal dalam bekerja maupun berlatih.
  • Hindari tidur terlalu malam
    Menurut para pakar yang meneliti sindrom tidur malam pada beberapa kelompok individu, disimpulkan untuk setiap jam seseorang melewati jam tidurnya ia akan mengkonsumsi 118 kalori tambahan. Dan apabila hal ini dilakukan selama 1 bulan saja, makan sudah terjadi penambahan asupan kalori sebanyak 3540 kalori atau sama dengan setengah kilo lemak dalam tubuh.
  • Pastikan jadwal istirahat yang konsisten
    Jadwal tidur yang konsisten memiliki dampak yang sangat besar dalam memiliki konsistensi aktivitas sepanjang hari. Tidur dan bangun pada waktu yang konsisten akan membuat pengaturan waktu menjadi lebih mudah. Salah satu contoh adalah keteraturan untuk sarapan. Sarapan juga ternyata berperan dalam mencegah melambatnya metabolisme dan menghindari kebiasaan makan yang berlebihan (bingeing) pada meal berikutnya.
  1. Elemen Terakhir
    Hasil angka 6 memang tampaknya sangat tidak sepadan dengan hasil perkalian dari 3 x 3 x 3 yang seharusnya adalah 27. Tapi ini hanya lebih merupakan ilustrasi mengenai sulitnya memiliki six-pack yang tajam dan inspirasional, bahwa diperlukan usaha yang keras sekaligus pintar. Usaha besar berarti berani untuk mengerahkan kemampuan diri ke batas maksimal. Menantang rasa sakit (pegal) latihan yang ditimbulkan akibat kualitas latihan yang tinggi. Dan menantang diri sendiri untuk selalu lebih baik pada sesi latihan yang berikutnya. Usaha yang pintar berarti senantiasa belajar dan mencari informasi ilmiah mengenai cara latihan, diet, dan istirahat yang baik. Tak lupa mengaplikasikan tehnik dan informasi yang telah didapat dengan konsisten dalam suatu program yang terstruktur, dan akhirnya melakukan evaluasi hasil latihan dan diet secara berkala.
  2. Bagi fitnesmania yang memiliki mental berpikir (mindset) yang positif, rumusan di atas justru akan menjadi tantangan yang memotivasi dirinya untuk memunculkan otot perut berkotak enam miliknya. Ia sadar bahwa tidak semua orang bisa memilikinya, dan hanya orang-orang yang rajin, disiplin, dan berani melalui rasa sakit melewati batas kesakitanlah yang akan mencuat sebagai orang yang dikagumi orang-orang di sekitarnya. Ia pantang menyerah pada mediokritas (berada di tengah-tengah, atau sedang-sedang saja) dan ia ingin bergabung dengan kelompok “ujung gunung es” yang mencuat keluar dari permukaan laut.
  3. Dalam mendapatkan hasil yang besar, tidak semua orang bersedia melakukan pengorbanan besar. Prinsip ekonomi yang berbunyi “Mendapatkan yang sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan sekecil mungkin” secara ironis tidak bisa diaplikasikan di sini, namun justru merupakan jalur yang ditempuh oleh lebih banyak orang. Itulah sebabnya hanya segelintir orang yang bersredia melakukan pengorbanan besarlah yang akan mendapatkan hasilnya.
  4. Pengorbanan besar tersebut bisa saja sebesar yang kita kira, bisa pula tak sebesar yang kita kira, atau bahkan mungkin lebih besar dari yang kita kira. Semua itu pada akhirnya tidak akan menjadi masalah apabila kita mengetahui seberapa besar tekad kita untuk mewujudkannya. Semakin besar tekad untuk mendapatkan perut berkotak-kotak, semakin kecil pula persepsi kita terhadap pengorbanan yang perlu dilakukan.
  5. Konklusi
    Memiliki perut six-pack mungkin memang bukanlah segalanya, namun bukan berarti Anda tidak perlu memiliki aspirasi untuk memilikinya. Perut berkotak-kotak hanya bisa dicapai oleh mereka yang bersedia menjalankan gaya hidup fitnes secara disiplin. Mudah? Tentu saja tidak. Karena kalau mudah, maka perut six-pack sudah tidak menarik untuk dimiliki dan semua orang sudah memilikinya tanpa harus berjuang berat dan pintar untuk bisa segera mendapatkan hasil yang sepadan. (sumber: Rai Institute)
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.