jump to navigation

Cyber Warfare dalam Konstelasi Politik Dunia October 12, 2012

Posted by wijasena in Military, Teknologi Informasi.
trackback

Aksi-aksi Perang Dunia Maya/Perang Cyber (Cyber Warfare) yang melibatkan negara-negara kuat dunia disinyalir sebagai Perang Modern di masa yang akan datang. Amerika Serikat, Cina, Rusia, dan Israel adalah negara-negara yang melirik kekuatan cyber sebagai salah satu faktor penting ketahanan nasional dalam konteks politik dan kekuasaan global.

Bagaimanakah para pemerhati politik dunia melihat tendensi ini sebagai kajian yang menarik dalam hal keterlibatan teknologi hacking komputer dan konstelasi politik global.

Cyber Politics

Setelah dikejutkan dengan aksi Stuxnet diawal 2010, tahun yang menandai babak baru Perang Dunia Maya itu dilengkapi oleh satu fenomena luar biasa yang menarik perhatian masyarakat global, yaitu mencuatnya kontroversi organisasi whistleblower Wikileaks yang kembali memanfaakan teknologi hacking computer untuk tujuan-tujuan politik.

Istilah cyber-politics dalam khasanah keilmuan Indonesia awalnya memang bukan satu subjek studi yang cukup akrab ditelinga masyarakat umum, karena itu dalam pembahasannya topik ini cukup asing terutama dikaitkan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin bergerak maju melahirkan berbagai macam inovasi yang membentuk dunia modern. Istilah cyber-politics sendiri secara singkat dapat direfleksikan melalui satu kalimat “internet based conflict involving politically motivated attacts on information & information system.”

Seiring dengan mencuatnya istiah cyber-politics, beberapa istilah-istilah yang sekiranya kurang dikenal masyarakat umum dalam kaitan teknologi hacking komputer dengan dunia politik antara lain Hacktivism, Political Cracking, Political Defacement, Electronic Civil Disobedience, Cyber-Warfare, sampai dengan Firesale, dan lain sebagainya hari ini mulai memiliki ruang sendiri dalam komunikasi global.

Cyber Warfare (Perang Dunia Maya)

Sementara Cyber Warfare (Perang Cyber) dalam sekup politik global dapat dipahami sebagai aksi politik yang melibatkan kemampuan hacking computer dalam mencapai tujuan-tujuan si pemilik kepentingan yang diantaranya bisa dilakukan melalui aktivitas-aktivitas semacam sabotase dan spionase.

“Cyber Warvare is an action of a nation-state to penetrate another nation’s computers or networks for the purposes of causing damage or disruption.”

Kalau kita pernah mendengar istilah Aurora, Stuxnet, Ghosnet sampai Wikileaks Takedown dan semua konsepsi global terkait digunakannya technology hacking komputer untuk tujuan-tujuan politik dalam format Perang Dunia Maya, disinilah pembahasan Cyber-Warfare sesunggungguhnya dapat difokuskan.

Stuxnet adalah worm komputer yang diciptakan tahun 2010, yang telah menginfeksi sistem komputer di Iran. Worm ini bahkan berhasil meremote ledakan berbahaya di pusat pengayaan uraninum pengembang nuklir negara yang menentang Amerika Serikat tersebut. Peristiwa ini pun disinyalir dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat sebagai penentang utama Program Nuklir Iran. Sementara operasi Aurora ditujukan untuk mencuri data-data sensitif para aktivis HAM Cina mencuat satu tahun sebelumnya.

Selain dua tools perang dunia maya yang cukup menarik perhatian masyarakat pemerhati politik global tersebut, Ghostnet tool spionase yang mematai-matai adalah salahsatu yang juga dianggap sebagai produk hacking computer yang telah menciptakan pengaruh besar terhadap perkembangan cyber-politics global.

Dunia Masa Depan

Setelah negara-negara super power mulai melirik technology hacking computer sebagai salah satu elemen penting dari ketahanan nasional mereka, disinyalir bahwa dimasa yang akan datang perang konvensional yang melibatkan fisik dan kekuatan militer tidak lagi menjadi pilihan startegi negara-negara besar dalam mencapai tujuan politiknya.

Karenanya pada masa kini teknologi hacking computer yang sebelumnya tidak terlalu menempati posisi penting dalam konstalasi global bahkan kurang dipahami oleh masyarakat biasa telah berhasil menarik perhatian para pelaku politik dunia, peneliti dan akademisi sebagai salah satu tantangan dunia masa depan.

Padahal, dunia kini mafhum, itulah salah satu contoh yang menunjukkan betapa perang siber(cyberwar) bukan lagi sekadar dongeng fiksi, tapi telah menjadi bagian nyata dari percaturan dunia ini.

Dan Iran adalah salah satu negara yang kerap menjadi sasaran serangan siber Israel–yang mendapat dukungan penuh Amerika Serikat–khususnya terkait upaya Iran memperkaya uranium, salah satu komponen utama nuklir.

Serangan malware Stuxnet pada instalasi pengayaan nuklir Iran di Natanz pada tahun 2009 lalu adalah salah satu buktinya. Stuxnet mampu menyusup masuk dan menyabot sistem dengan cara memperlambat ataupun mempercepat motor penggerak, bahkan membuatnya berputar jauh di atas kecepatan maksimum. Kecepatan ini akan menghancurkan sentrifuse atau setidaknya merusak kemampuan alat itu untuk memproduksi bahan bakar uranium.

Malware paling canggih dan paling hebat yang pernah dibuat sepanjang sejarah itu diakui banyak kalangan sebagai serangan paling cerdas. Pengakuan itu bukan datang dari sembarang orang, tapi dari kalangan industri aplikasi pengamanan terkemuka dunia seperti Symantec (Amerika Serikat), Kaspersky (Rusia), dan F-Secure (Finlandia).

Satu catatannya: serangan ini hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan dari pemerintah negara tertentu. Ini karena Stuxnet terdiri dari program-program komputer kompleks yang pembuatannya memerlukan beragam keterampilan. Ia sangat canggih dan membutuhkan dana sangat besar untuk menciptakannya. Tidak banyak kelompok yang mampu melancarkan serangan seperti ini.

Para pakar Symantec memperkirakan pengerjaan Stuxnet membutuhkan tenaga 5 hingga 30 orang dalam waktu enam bulan. Selain itu, dibutuhkan pengetahuan sistem kontrol industri dan akses terhadap sistem itu untuk melakukan pengujian kualitasnya. Sekali lagi, ini mengindikaskan bahwa Stuxnet adalah sebuah proyek yang sangat terorganisir dan dibekingi dana besar.

“Kami benar-benar belum pernah melihat worm seperti ini sebelumnya,” kata Liam O’Murchu, peneliti Symantec Security Response. “Fakta bahwa worm ini dapat mengontrol cara kerja mesin fisik tentunya sangat mengkhawatirkan.”

Stuxnet sendiri 100 persen merupakan serangan siber terarah yang ditujukan untuk menghancurkan proses industri di dunia nyata. Banyak pakar keamanan bersepakat: Israel dan Amerika Serikat terlibat dalam serangan maya itu.

Februari 2011, Daily Telegraph, harian asal Inggris, memberitakan dalam sebuah upacara perpisahan di Israel Defense Forces (IDF), Gabi Ashkenazi, sang mantan kepala staf IDF, mengatakan Stuxnet merupakan salah satu keberhasilan utama dia saat memimpin lembaga itu.

Sebagai Matra kelima

Jagat cyber kini bahkan telah didudukkan sebagai matra perang kelima setelah darat, laut, udara, dan angkasa luar (space). Inovasi di bidang teknologi telah mengubah taktik dalam konflik di zaman modern dan membuat dunia maya menjadi medan perang terbaru.

Banyak perangkat mutakhir telah dibuat untuk keperluan ini. Dibantu oleh kemajuan teknologi elektromagnetik serta teknologi komunikasi dan informasi, sebuah bentuk pertempuran elektronik telah tercipta dan membuat pemerintahan berbagai negara melihat perang dunia maya sebagai ancaman terbesar di masa depan.

Instalasi yang dibangun sejak satu dekade yang lalu itu awalnya hanya bertugas memonitor percakapan internasional di jaringan satelit Intelsat dan stasiun relay telepon antar negara besar. Tapi kini ia juga bertugas mengawasi percakapan via satelit Inmarsat, juga menyadap kabel-kabel bawah laut.

Menurut sumber terpercaya, komputer-komputer di instalasi Negev diprogram untuk dapat memilah-milah kata serta berbagai pesan di percakapan telepon, email, dan data yang diintersepnya. Pesan-pesan yang berhasil disadap itu langsung dikirim ke markas besar Unit 8200 di Camp Glilot di kota Herzliya, sebelah utara Tel Aviv.

Di tempat itulah pesan-pesan dari berbagai bahasa itu diterjemahkan dan diteruskan ke agen-agen Mossad di negara lain maupun berbagai badan lain yang berkepentingan.

Yang harus dicatat dari Unit 8200 adalah kekuatan pasukan elite cybernya. Upaya dan obsesi Israel untuk memiliki kekuatan cyber yang handal, telah dimulai sejak 1990-an. Saat itu para peretas (hacker) Israel cuma disodori dua pilihan: masuk bui atau memilih untuk bergabung dengan The Unit.

Kini, hasilnya tak main-main. Sebuah konsultan di AS memperhitungkan The Unit sebagai salah satu ancaman cyber terbesar dunia, di samping China, Rusia, Iran, dan Perancis. Stuxnet adalah salah satu bukti konkretnya.

Angkatan perang siber

Kekuatan sebuah angkatan perang siber ditentukan oleh kemampuan serangan, pertahanan, serta ketergantungan suatu negara terhadap Internet. Dalam buku “Cyber War”, pakar keamanan komputer asal AS dan profesor di Universitas Harvard Richard A. Clarke dan Robert A. Knake memetakan kekuatan negara-negara dalam menghadapi perang siber.

Amerika Serikat, meski punya kemampuan serangan yang baik, tidak punya kemampuan untuk memutuskan jaringan Internet saat diserang, mengingat sebagian terbesar jaringan Internet di negara ini dimiliki dan dioperasikan oleh swasta. Sebaliknya, China memiliki kemampuan memutus seluruh jaringan Internet di negaranya bila suatu saat diserang. China juga mampu membatasi utilisasi trafik, dengan memutus koneksi dari para pengguna yang tak terlalu berkepentingan.

Namun negara yang dinilai paling mampu bertahan jika terjadi perang dunia maya, menurut Clarke, adalah Korea Utara. Negara ini mampu memutus koneksi Internetnya dengan lebih mudah ketimbang China. Bisa dibilang Korea Utara tak akan mengalami kerugian akibat serangan cyber musuh, karena tak ada infrastruktur kritikal seperti pembangkit listrik, jalur kereta, atau jalur pipa yang tersambung ke Internet.

Lalu, bagaimana dengan Negara Indonesia?

Muhammad Salahuddien, Wakil Ketua Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure known (Id-SIRTII) menyebutkan, perang cyber di negeri ini juga bukanlah hal baru. Sebagaimana perang-perang cyber lain yang mewarnai tensi politik dan hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya, Indonesia sudah mulai terlibat perang cyber sejak satu dekade yang lalu–mulai dari perang cyber dengan Portugal pada 1999, dengan Australia, hinggacyberwar dengan Malaysia beberapa tahun terakhir.

Sayangnya, menurut salah satu pentolan kelompok peretas Antihackerlink, Arief Wicaksono, kemampuan para aktivis cyber Indonesia bisa dikatakan masih belum mumpuni. Pasalnya, daya peretas di suatu negara biasanya sangat dipengaruhi oleh kualitas infrastruktur Internet serta tarifnya.

“Dari sisi kuantitas mungkin memang banyak insiden yang berasal dari Indonesia. Namun dari sisi kualitas, skill hacker Indonesia masih kurang optimal,” kata Arief yang kini menjadi koordinator Research and Development Antihackerlink.

Karenanya, menurut dia, perang cyber di Indonesia masih sebatas serangan defacing atau mengubah tampilan desain sebuah laman web. Serangan jenis ini bisa dibilang hanya untuk mempermalukan, tapi terbilang tidak membahayakan.

Tapi, seiring dengan pertumbuhan Internet di Indonesia yang begitu cepat, dia percaya akan lebih banyak lagi infrastruktur strategis dan layanan publik yang akan semakin bergantung pada sistem informasi, teknologi, dan jaringan Internet, sehingga rentan terhadap serangan cyber.

Jika sudah begitu, dia mengingatkan, “Ancaman perang informasi dan serangan cyber akan semakin meningkat dan menjadi medan pertempuran utama di masa mendatang, termasuk di Indonesia.”

Jaman semakin berkembang, teknologipun semakin maju, di jaman modern seperti sekarang perang analog atau perang menggunakan senjata dan kekerasan untuk menginvasi negara lain nampaknya telah di alihkan kedalam bentuk digital yaitu melalui jaringan internet atau dunia maya soalnya perang konvensional atau perang menggunakan senjata membutuhkan biaya dan korban yang besar.

Untuk menaklukan suatu negara, tidak perlu dengan persenjataan dan jumlah pasukan yang besar akan tetapi dapat dilakukan penyerangan terhadap segi ekonomi atau dari atau sektor komunikasi melalui dunia maya.

Militer AS, Selasa, mengumumkan “komando baru dunia maya” yang dirancang untuk melancarkan perang digital dan mendorong pertahanan dari ancaman yang meningkat terhadap jaringan komputernya oleh para hacker yang sangat meresahkan dan memiliki perkembangan yang sangat pesat.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates secara resmi mendirikan komando dunia mayat –yang pertama di negeri itu– yang akan beroperasi di bawah Komando Strategis AS, kata jurubicara PentagonBryan Whitman.

Komando tersebut akan mulai beroperasi pada Oktober dan beroperasi penuh setahun kemudian, kata Whitman.

Tindakan itu mencerminkan perubahan dalam strategi militer sementara “dominasi maya” sekarang menjadi bagian dari doktrin perang AS dan dilakukan di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh jaringan mata-mata digital yang datang dari China, Rusia, dan tempat lain.

Para pejabat AS mengatakan, China telah membangun program canggih perang maya dan serangkaian penyusupan di Amerika Serikat serta tempat lain dapat dilacak ke sumber di China.

Pejabat yang diperkirakan banyak kalangan akan memimpin komando tersebut ialah Letnan Jenderal Keith Alexander, Direktur Rahasia Super Badan Keamanan Nasional (NSA), sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP.

Alexander telah menggambarkan dunia maya sebagai perbatasan baru militer yang dapat membentuk keamanan nasional dan masa depan. Ia membandingkannya dengan kekuatan laut atau udara.

Departemen Pertahanan menyatakan komando itu akan mengerucutkan beragam upaya maya di seluruh Angkatan Bersenjata dan akan memusatkan perhatian pada jaringan kerja militer.

Para pejabat mengatakan, komando itu tampaknya akan berada di Fort Meade, Maryland, dan Pentagontakkan mengambil-alih upaya keamanan bagi jaringan kerja sipil dari lembaga lain pemerintah.

Militer AS mengandalkan 15.000 jaringan kerja dan sebanyak tujuh juta komputer, dengan lebih dari 100 lembaga intelijen asing berusaha meretas jaringan kerja AS, kata Wakil Menteri Pertahanan William Lynn.

“Jaringan kerja pertahanan kami terus-menerus menghadapi serangan,” kata Lynn dalam satu pidato pekan lalu.

“Semua itu diperiksa ribuan kali setiap hari. Semua itu disaring jutaan kali per hari. Dan seringnya serta canggihnya serangan meningkat …,” katanya.

“Ancaman tersebut bersumber mulai dari peretas remaja sampai gerombolan kriminal yang bertindak sebagai tentara bayaran maya bagi pemerintah asing,” kata Lynn.

Lynn memberi contoh serangan maya yang membuat jaringan komersial dan pemerintah Georgia tak dapat beroperasi selama penyusupan militer Rusia tahun lalu.

Para pejabat pertahanan telah mengatakan komando maya itu akan memusatkan perhatian pada upaya keamanan serta kemampuan serangan guna menjamin “kebebasan tindakan di dunia maya” bagi Amerika Serikat.

Perincian pasti kekuatan militer maya AS tetap menjadi rahasia, tapi itu meliputi teknologi yang mampu menembus dan membuat macet jaringan kerja, termasuk sistem udara rahasia Suter, kata beberapa pengulas.

Teknologi tersebut dilaporkan telah ditambahkan kepada pesawat tanpa awak dan memungkinkan pemakai mengambil-alih serta memanipulasi sensor musuh.

Penerobosan yang dilaporkan terhadap jaringan listrik AS dan jaringan kerja yang digunakan oleh kontraktor udara yang membuat pesawat jet tempur F-35 telah menggaris-bawahi keprihatinan mengenai keamanan maya.

Tahun lalu, beberapa ribu komputer di Departemen Pertahanan AS diserang oleh malicious software, sehingga militer melarang tentara dan staf sipil menggunakan perangkat memori eksternal dan thumb drive.

Dalam anggaran pertahanan yang diusulkan bagi tahun fiskal 2010, pemerintah AS telah mengusulkan tambahan dana buat pelatihan sampai tiga kali lipat jumlah ahli keamanan maya dari 80 jadi 250 per tahun.

Presiden Barack Obama telah menetapkan prioritas utama pada keamanan maya dan mengumumkan rencana bagi koordinator nasional pertahanan maya.

Satu kajian kebijakan Gedung Putih menyatakan, “Resiko keamanan maya menimbulkan tantangan keamanan nasional dan ekonomi paling serius pada Abad XXI.”

Obama telah menjanjikan hak kebebasan pribadi akan sepenuhnya dipelihara sekalipun saat pemerintah bertindak guna meningkatkan upaya untuk melindungi jaringan kerja sensitif militer dan sipil.

Sumber:

http://politik.kompasiana.com/2011/12/11/cyber-politics-perang-dunia-maya-dan-tantangan-dunia-masa-depan/

Comments»

1. TUGAS SIBERNETIKA TENTANG PERANG CYBER / CYBER WAR pertemuan ke V | raskusfamily - November 4, 2013

[…] yang menarik dalam hal keterlibatan teknologi hacking komputer dan konstelasi politik global. (https://wijasena.wordpress.com/2012/10/12/cyber-warfare-dalam-konstelasi-politik-dunia/) saat ini sudah banyak terajdi perang cyber baik antar  individu atau pun dengan skala yang lebih […]

wijasena - April 30, 2014

yang jelas konfrontasi antar negara di dunia maya akan semakin massif. bagaimana dengan Indonesia?????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: